hari ini entah apa yang ingin aku tulis..
tapi yang jelas,,, hari ini hatiku tak tahu mau kemana....
aku binggung....
aku bosan,
aku jenuh...
dan aku ingin mengakhiri kesendirian ini...
aku berharap ada sosok pangeran yang datang untukku...
menemaniku...
menjagaku,...
dan bisa merubahku menjadi sosok yang lebih baik dari aku yang sekarng...
tapi sayang...
sayang seribu kali sayang...
itu semuanya mungkin hanya sekedar ilusi semataku...
yang mungkin entah akan terjadi atau tidak..
tuhan...
dengarkan doa hambamu ini tuhan...
aku hanya ingin ada seseorang yang mengisi hati ini...
maafkan hamba jikalau hamba sering kali mengeluh...
meminta,,,
dan terus saja meminta...
tapi dengarkanlah doaku ini tuhan,,,
kirimlah malaikat hatiku untukku...
agar dia menjagaku,,,
seperti halnya Engkau menjagaku....
tuhan...
kabulkanlah doa hamba ini...
doa yang selalu aku panjadkan di sela-sela sujud dan tidurku...
kirimkan aku malaikatmu tuhan.............
Minggu, 29 November 2015
Rabu, 25 November 2015
Aku ingin teriak....
Hari ini aku di antara dua rasa...
bahagia.... dan terluka...
aku bahagia karena bisa melihat langsung bu dian aristi mendaftar gelar Prof.
semoga bu dian berhasil...
aku juga senang banget karena bu dian ngundang aku sebagai pembuktian pendaftaran gelar prof ini...
aku makin kagum dengan bu dian...
semoga bu dian cepat mendapatkan gelar prof. nya...
amin.....
tapi di sela-sela kebahagianku melihat bu dian mendaftar gelar prof..
aku benci banget sama seseorang...
mengapa dia memberikan harapan palsu...
aku sudah nunggu seharian....
tapi mana...
dia gak dateng-dateng..
rasanya aku ingin marah,,,
aku kesal..
tapi kenapa aku gak bisa benci sama dia...
kenapa,,,,
padahal dia itu siapa,,,
hah,,,
gara-gara dia...
rencana aku untuk pulang gagal..
aku sdh merelakan aku gak pulang kampung demi dia,,,,
tapi apa nyatanya...
dia bohong,,,,,
tapi aku selalu mendoakan dia,,,
semoga tugasnya cepet kelar dan cepet slesai....
tapi aku rasanya sudah tak percaya lagi semua omonganya lagi...
sudah terlalu sakit....
mungkin aku bukan wanita yang begitu sempura untuk dia...
bukan juga wanita di ingginkan dia...
tapi apa salah jika aku ingin membantunya.,..
apa salah aku ingin melihat dia senang,,,
aku benci....aku benci...
aku benci sekali sama dia,,,,,,,,,,,,,,,,,,
rasanya aku ingin teriak dan berkata..
"Aku benci dia....................."
bahagia.... dan terluka...
aku bahagia karena bisa melihat langsung bu dian aristi mendaftar gelar Prof.
semoga bu dian berhasil...
aku juga senang banget karena bu dian ngundang aku sebagai pembuktian pendaftaran gelar prof ini...
aku makin kagum dengan bu dian...
semoga bu dian cepat mendapatkan gelar prof. nya...
amin.....
tapi di sela-sela kebahagianku melihat bu dian mendaftar gelar prof..
aku benci banget sama seseorang...
mengapa dia memberikan harapan palsu...
aku sudah nunggu seharian....
tapi mana...
dia gak dateng-dateng..
rasanya aku ingin marah,,,
aku kesal..
tapi kenapa aku gak bisa benci sama dia...
kenapa,,,,
padahal dia itu siapa,,,
hah,,,
gara-gara dia...
rencana aku untuk pulang gagal..
aku sdh merelakan aku gak pulang kampung demi dia,,,,
tapi apa nyatanya...
dia bohong,,,,,
tapi aku selalu mendoakan dia,,,
semoga tugasnya cepet kelar dan cepet slesai....
tapi aku rasanya sudah tak percaya lagi semua omonganya lagi...
sudah terlalu sakit....
mungkin aku bukan wanita yang begitu sempura untuk dia...
bukan juga wanita di ingginkan dia...
tapi apa salah jika aku ingin membantunya.,..
apa salah aku ingin melihat dia senang,,,
aku benci....aku benci...
aku benci sekali sama dia,,,,,,,,,,,,,,,,,,
rasanya aku ingin teriak dan berkata..
"Aku benci dia....................."
Senin, 23 November 2015
hari ini penuh rasa dan warna
hari ini.....
penuh rasa dan warnah...
saat mentari menampakan sinarnya
dan aku masih dengan kasurku yang empuk
aku di kejutkan dengan telfon dari dosenku,
dengan PDnya aku marah marah dan berkata,,,,
"ini siapa!!!!"
ha...ha...ha
ternyata dosen saya yang telfon....
dengan sekejap aku terbangun dan aku binggung mau ngomong apa..
setelah bercengkrama dengan beliau aku jadi ingin ketawa....
siangnya aku amat senang sekali aku bisa dekat dengan dosenku yang satu ini
bu Dian Aristi namanya...
beliau adalah dosen yang sangat wibawa....
aku berutung bisa menjadi salah satu asistenya bu Dian...
menjelang sore rasa panik tiba...
sewaktu aku beli gorengan di pingir jalan aku di kejutkan dengan suasanya yang sangat mendebarkan..
penjual es capucino yang berjualan di samping gorengan yang aku beli, tiba-tiba pinsa..
beliau perempuan dengan umur kurang lebih 35 tahun,,,,
setelah hampir 30menitan beliau terbangun...
ternyata beliau mempunyai sebuah penyakit...
dan parahnya beliau memaksakan diri untuk berjualan,,
akhrnya beliau tidak kuat dan pinsan...
sejenak aku melihat ibu itu jadi teringat oleh ibuku...
betapa ibuku berjuang keras untuk aku
tak kenal letih
tak kenal waktu.....
terimakasih ibu ku,,
aku di sini sangat merindukanmu..
aku ingin pulang..
memeluk serta mencium keningmu...
ya allah...
aku berdoa,,,
agar ibu itu cepat sembuh, cepat sehat dan bisa berdagang lagi....
aminnnnnnnnnnnnnnnnnnnn.................
penuh rasa dan warnah...
saat mentari menampakan sinarnya
dan aku masih dengan kasurku yang empuk
aku di kejutkan dengan telfon dari dosenku,
dengan PDnya aku marah marah dan berkata,,,,
"ini siapa!!!!"
ha...ha...ha
ternyata dosen saya yang telfon....
dengan sekejap aku terbangun dan aku binggung mau ngomong apa..
setelah bercengkrama dengan beliau aku jadi ingin ketawa....
siangnya aku amat senang sekali aku bisa dekat dengan dosenku yang satu ini
bu Dian Aristi namanya...
beliau adalah dosen yang sangat wibawa....
aku berutung bisa menjadi salah satu asistenya bu Dian...
menjelang sore rasa panik tiba...
sewaktu aku beli gorengan di pingir jalan aku di kejutkan dengan suasanya yang sangat mendebarkan..
penjual es capucino yang berjualan di samping gorengan yang aku beli, tiba-tiba pinsa..
beliau perempuan dengan umur kurang lebih 35 tahun,,,,
setelah hampir 30menitan beliau terbangun...
ternyata beliau mempunyai sebuah penyakit...
dan parahnya beliau memaksakan diri untuk berjualan,,
akhrnya beliau tidak kuat dan pinsan...
sejenak aku melihat ibu itu jadi teringat oleh ibuku...
betapa ibuku berjuang keras untuk aku
tak kenal letih
tak kenal waktu.....
terimakasih ibu ku,,
aku di sini sangat merindukanmu..
aku ingin pulang..
memeluk serta mencium keningmu...
ya allah...
aku berdoa,,,
agar ibu itu cepat sembuh, cepat sehat dan bisa berdagang lagi....
aminnnnnnnnnnnnnnnnnnnn.................
Minggu, 22 November 2015
sebuah sososk dirinya mengigatkanku pada masa laluku
Saat ini aku ingin bercerita tenntang hari kemaren dan pagi hari ini
hari ini adalah hari ulang tahun KSP
KSP kelompok study pemanfaatan sumberdaya perikanan
ulang tahunnya berlangsung dengan meriah dan sangat sukses..
tapi di sela-sela itu semua..
ada salah satu sosok seseorang yang mengejutkan diriku..
membuat pandangan itu tertuju hanya padanya
dia salah satu alumni KSP angkatan 2009
yang mungkin baru aku melihatnya....
TAMA...
itu namanya,,,
bukan karena dia ganteng...
bukan dia berkacamata...
dan bukan juga karena sosok kewibawanya yang membuat aku terpana olehnya..
tapi....
wajahnya...
cara bicara...
serta kelembutanya,,,
seakan mengigatkanku dengan seseorang yang dulu aku dan dia ada suatu ikatan yang besar,,,
AKHLISIN.....
mengapa mas Tama begitu miripnya dengan mas Akhlisin,,,
aku tak henti-hentinya memandang wajahnya...
entah mengapa semua kenangan masa laluku seketika muncul
ketika diriku melihat sosok mas Tama,,,
humh...
seakan aku ingin tertawa...
bahkan,,,
aku memikirkan sesuatu yang tak seharusnya aku fikir dan sesuatu hal yang gak mungkin terjadi,,
walaupun sekedar membayangkanya,,,
tapi aku berharap akan bisa bertemu dengan mas Tama lagi...
walapun sebenarnya akupun gak begitu kenal dengan mas Tama
walapun sebenarnya akupun gak begitu kenal dengan mas Tama
Jumat, 20 November 2015
Rasaku
Entah sampai kapan rasaku padamu ini akan selalu ada, aku selalu saja memikirkanmu, mengigat tentangmu, dan selalu menghayal kau bersama diriku, walaupun aku tahu kini kau telah bersamanya, tapi apakah aku salah jika rasa ini masih tersimpan di hati ini. Jujur aku cemburu ketika melihat dirimu bersamanya, harusnya aku yang di sana temani hari-harimu, bukan dia.
Aku tahu dia lebih baik dariku, tapi apakah kamu tak sedikitpun melihat kebaikanku, betapa aku mengagumimu, hingga rasa kagum ini berubah menjadi rasa yang sangat luar biasa yang selalu membuat hati ini tak tenang, Ketika kamu bersama dirinya betapa hati ini hancur,betapa hati ini rapuh, betapa hati ini tak kuasa untuk melihat itu semu itu.
Aku mencoba untuk biasa saja, tapi tetap saja aku hanyalah wanita biasa, yang terlalu merasa, merasa sakit, merasa perih. Aku berharap suatu saat nanti kamu akan melihat diriku, kamu akan mencintaiku dan aku akan mengantikan dia untukmu.....
Aku tahu dia lebih baik dariku, tapi apakah kamu tak sedikitpun melihat kebaikanku, betapa aku mengagumimu, hingga rasa kagum ini berubah menjadi rasa yang sangat luar biasa yang selalu membuat hati ini tak tenang, Ketika kamu bersama dirinya betapa hati ini hancur,betapa hati ini rapuh, betapa hati ini tak kuasa untuk melihat itu semu itu.
Aku mencoba untuk biasa saja, tapi tetap saja aku hanyalah wanita biasa, yang terlalu merasa, merasa sakit, merasa perih. Aku berharap suatu saat nanti kamu akan melihat diriku, kamu akan mencintaiku dan aku akan mengantikan dia untukmu.....
Selasa, 27 Oktober 2015
Sebuah Kata Kerinduan
Ada banyak jalan yang telah aku tempuh
Ada beribu kata yang ingin ku sampaikan
Sebuah kata kerinduan..
Desah ini selalu mengiringi hari-hariku
Dimana setiap desah ini adalah kamu
Diantara detak jantung yang selalu merindukanmu
Ku melihat seraut wajahmu
Yang menghantui setiap detik malamku
Sejenak ku mendegar suara manis itu di sudut malam-malam ini
Akanku katakan pada awan hitam
Aku ingin menyapamu
Walau lewat semilir angin malam ini
Talah ku rangkai kata sederet syair indah untukmu...
Berharap engkau juga merindukanku.....
Minggu, 25 Oktober 2015
laporan Navigasi
I.
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang
Menurut Artiana (2001), dengan
semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan transportasi, semakin tinggi
tingkat interaksi masyarakat Indonesia. Proses globalisasi turut mempercepat
interaksi masyarakat Indonesia dengan dunia internasional. Sejalan dengan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu pelayaran juga mengalami
perkembangan yang pesat. Hal ini ditandai dengan banyak diciptakannya
kapal-kapal dengan daya tampung dan daya jangkau yang
besar, sehingga tuntutan masyarakat akan alat transportasi laut yang cepat,
aman, daya tampung besar, dan daya jangkau terpenuhi. Kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi tersebut menuntut tenaga kerja yang
ahli dan terampil di bidang pelayaran sehingga dapat memanfaatkan kemajuan ilmu
dan teknologi pelayaran.
Pemanfaatan sumberdaya
perikanan sebagai suatu ilmu di bidang penangkapan sangat perlu untuk mengetahui
tentang ilmu navigasi. Ilmu Navigasi dapat memberi wawasan dan pengetahuan kepada
mahasiswa tentang berbagai macam alat navigasi yang digunakan dalam kapal,
khususnya kapal perikanan. karena saat ini meskipun ilmu navigasi berkembang
pesat tidak diimbangi dengan teknologi navigasi pada kapal
perikanan di Indonesia dimana masih sangat sedikit yang menggunakan peralatan
navigasi.
1.2. Tujuan
Tujuan praktikum Navigasi adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui
sistem navigasi yang digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya
perikanan serta mengerti alat dan cara penggunaannya;
2.
Mengetahui macam-macam navigasi dalam
dunia perikanan;
3.
Mahasiswa dapat menentukan
langkah-langkah pembaringan.
1.3. Manfaat
Manfaat dari praktikum
Navigasi adalah sebagai berikut:
1.
Mahasiswa dapat memahami ilmu
navigasi dan
mengembangkan ilmu navigasi khususnya dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan;
2. Mahasiswa dapat menginterpretasikan ilmu
pembaringan.
1.4.
Waktu dan Tempat
Praktikum Navigasi ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 14
Juni 2014 yaitu Praktikum Pembaringan dilaksanakan di Kampus Perikanan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang dan hari Selasa tanggal 17 Juni 2014 di BBPPI (Balai Besar Pengembangan
Penangkapan Ikan), Semarang.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Navigasi
Menurut
Yudiawan (2002) dalam Sucipto (2005),
navigasi adalah suatu proses mengendalikan gerakan alat angkutan baik di udara,
di laut atau sungai maupun di darat dari suatu tempat ke tempat yang lain
dengan lancara, aman dan efisien. Seiring dengan perkembangan zaman,
modernisasi peralatan navigasi sangat membantu akurasi penentuan posisi kapal
di permukaan bumi, sehingga dapat menjamin terciptanya aspek-aspek ekonomis
dalam asas “Bussines to Bussines”.
Sistem navigasi memiliki kelebihan dalam dunia industry maupun perorangan,
antar lain:
1.
Menentukan tempat kedudukan (posisi)
dimana objek berada di permukaan bumi.
2.
Mempelajari serta menentukan rute/jalan
yang harus ditempuh agar kapal dengan aman, cepat, selamat, dan efisien sampai
ke tujuan.
3.
Menentukan haluan antara tempat tolak
dan tempat tiba yang diketahui sehingga jauhnya/jaraknya dapat ditentukan.
4.
Menentukan tempat tiba bilamana titik
tolak haluan dan jauh diketahui.
2.2. Macam-macam Navigasi
2.2.1. Navigasi darat
Menurut
Sucipto (2005), navigasi darat adalah ilmu yang mempelajari cara seseorang
menentukan suatu tempat dan memberikan banyangan medan, baik keadaan permukaan
serta bentang alam dari bumi dengan bantuan minimal peta dan kompas. Pekerjaan
navigasi darat di lapangan secara mendasar adalah titik awal perjalanan (intersection dan resection), tanda medan, arah kompas, menaksir jarak, orientasi
medan dan resection, perubahan
kondisi medan dan mengetahui ketinggian suatu tempat. Alat-alat navigasi terdiri
dari:
a.
Kompas adalah alat untuk menentukan arah
mata angin berdasarkan sifat magnetic kutub bumi. Arah mata angin utama yang
bisa ditentukan adalah N (north =
utara), S (south = Selatan), E (east = timur), W (west = barat). Serta arah mata angin lainnya yaitu NE (north east = timur laut), SE (south east = tenggara), SW (south west = barat daya), NW (north west = barat laut). Jenis ko,pas
yang umum digunakan adalah kompas sylva,
kompas orientasi dan kompas bidik/prisma.
b.
Altimeter adalah alat untuk menentukan
ketinggian suatu tempat berdasarkan perbedaan tekanan udara.
c.
Peta adalah gambaran sebagian/seluruh
permukaan bumi dalam bentuk dua dimensi dengan perbandingan skala tertentu.
Jenis-jenis peta terdiri dari peta teknis, peta topografi dan peta ikhtisar/geografi/wilayah.
Bagian-bagian peta antara lain judul, nomor, koordinat, skla, kontur, tahun
pembuatan, legend, dan deklinasi magnetis.
d.
GPS (Global
Positioning System) adalah sistem radio navigasi global yang terdiri dari
beberapa satelit dan stasiun bumi. Fungsinya adalah menentukan lokasi, navigasi
(menentukan satu lokasi menuju lokasi lain), tracking (memonitor pergerakan seseorang/benda), membuat peta di
seluruh permukaan bumi dan menentukan waktu yang tepat di tempat manapun.
2.2.2. Navigasi
Laut
Navigasi laut adalah ilmu yang mempelajari tentang cara
atau bagaimana menganalisa, menentukan juga mempetakan suatu daerah di wilayah
perairan. Navigasi laut menggunakan alat seperti gps, peta laut, radar, echo
sounder, electronic chart, serta kompas. Dimana alat bantu tersebut mempunyai
fungsi dan kegunaan yang berbeda-beda. Untuk dapat mencapai tujuan
selamat, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti : manusianya, alat yang
digunakan untuk bernavigasi, dan kapalnya itu sendiri, serta dengan
memperhatikan keadaan alam yang mempengaruhinya. Untuk mencapai efficiency yang tinggi, seorang
navigator harus memperhatikan semua sarana yang ada dan mampu menggunakannya
secara maksimal sesuai dengan keadaan yang ada serta harus memperhatikan
jarak yang ditempuh yang sependek mungkin, denagan memperhatikan
keselamatan kapal (Arso, 1992).
Lalu lintas pelayaran dewasa ini dipenuhi
oleh kapal-kapal tradisional dan modern yang dilengkapi dengan bermacam-macam
sistem navigasi antara lain navigasi elektronik. Sejalan dengan pesatnya
kemajuan teknologi bidang pelayaran dari tahun ke tahun sistem navigasi
elektronik harus dikembangkan dan instrument model terbaru diperkenalkan agar
sepenuhnya dapat menunjang keselamatan pelayaran. Pada gilirannya tuntutan
kualitas profesional terhadap kemampuan para perwira navigator juga semakin
tinggi. Peranan sistem navigasi elektronik dalam penentuan posisi sangat
potensial dan merupakan bagian dari kegiatan tugas jaga seorang perwira di
anjungan. Pengunaan alat-alat seperti GPS, peta laut, radar, echo sounder, electronic chart, serta kompas sangat penting dalam dunia
pelayaran. Dalam dunia penangkapan ikan, alat tersebut sangat besar perannya
disamping menggunakan alat bantu pencari (Arso, 1992).
2.3. Peralatan Navigasi
2.3.1. GPS

Gambar
1. GPS (Global Positioning System)
Menurut Fajriyanto
(2009), GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi dengan
menggunakan satelit. GPS terdiri dari tiga segmen utama yaitu segmen angkasa
yang terdiri dari satelitsatelit yang jumlah keseluruhannya ada 24 buah, segmen
kontrol yang terdiri dari 5 stasiun monitor dan pengontrol satelit yang
tersebar merata dipermukaan bumi, dan segmen pengguna yang terdiri dari pemakai
GPS yaitu alat-alat penerima (receiver)
yang menerima dan mengolah sinyal serta data waktu dari satelit.
Menururt Firdaus
(2009), GPS (Global Positioning System) adalah sebuah sistem atau proses
untuk menentukan suatu posisi, manapun di planet bumi ini berdasarkan 4 faktor:
latitude, longitude, altitude and time. Istilah lengkap GPS adalah
NAVSTAR-GPS (Navigation System Timing And Ranging – GPS). Dibangun oleh
Departemen Pertahanan U.S.A dengan dua tipe pelayanan: (1) SPS (Standard
Positioning
System untuk warga sipil), dan (2) PPS (Precise Positioning
System-utk militer). Satelit GPS pertama, diluncurkan pada 22 Februari
1978. Fungsi GPS selain untuk menentukan posisi dari sesuatu benda/hal, GPS
digunakan juga untuk : (1) Kecepatan, (2) Percepatan (Akselerasi), (3) Arah
laju, dan (4) Ukuran Interval
Menurut Harsono et al. (2006), Data utama yang dihasilkan dari semua penerima GPS
adalah data koordinat bujur dan lintang, namun ada dua fitur yang sangat
berguna untuk melakukan pemetaan yaitu waypoints dan track-log. Waypoints digunakan untuk merekam
titik-titik yang diinginkan secara manual dan penerima GPS yang dipakai dalam paper
ini mampu menyimpan hingga 500 titik. Sedangkan track-log digunakan untuk
merekam jejak perjalanan secara otomatis dengan resolusi jejak yang bisa
diatur. Jumlah titik koordinat yang bisa disimpan dengan fitur ini adalah
10.000 titik tiap track dan mampu menyimpan hingga 20 track. Fitur mana yang akan
digunakan adalah tergantung pada peta apa yang ingin dibuat. Misalnya, fitur
waypoints cocok dipakai untuk membuat peta letak kantor atau bangunan, dan fitur
track-log cocok digunakan untuk membuat peta jalan atau batas wilayah. Demikian
seterusnya untuk pembuatan peta yang lain.
Prinsip dasar penentuan posisi dengan
GPS adalah seperti pemotongan ke muka (resection)
pada survei konvensional. Apabila pada pemotongan data yang diukur adalah sudut,
maka pada penentuan posisi dengan GPS data yang diukur adalah jarak dari receiver ke sekurang-kurangnya tiga
satelit, maka posisi receiver GPS dapat ditentukan. Untuk penentuan posisi
suatu titik (station) pengamatan
diperlukan data jarak dari stasiun tersebut ke beberapa satelit GPS yang
diamat. Jarak tersebut tidak dapat diukur secara langsung tetapi dengan jalan
mengukur misalnya waktu rambat sinyal dari satelit ke stasiun pengamat atau
jumlah fase gelombang sinyal yang merupakan fungsi waktu rambat sinyal
(Fjariyanto, 2006)
2.3.2. Peta laut

Gambar 2. Peta Laut
Sumber: http://www.syamsulmarlin.com/pemanfaatan-gps-dalam-pemetaan-fishing-ground-alat-tangkap-purse-seine/
Peta
adalah proyeksi bumi atau sebagian dari muka bumi yang digambarkan di atas
bidang datar. Pengertian peta lebih menjurus pada keadaan umum, keadaan daratan
dan batas-batasnya dilihat dari sudut politis, sedangkan peta lebih
mementingkan hal-hal serta keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh seorang
navigator untuk dapat menentukan posisi, jarak, haluan serta hal- hal lain demi
keselamatan atau keamanan navigasi. Peta-peta diterbitkan menurut sifat
pemakaiannya, misalnya peta untuk penerbangan (aeronautical chart), peta laut (nautical
chart), peta cuaca (weather chart),
peta bintang (star chart) dan lain-lain. Untuk keperluan pelayaran di
laut dipakailah peta laut (Anonim, 2012).
Definisi
IMO untuk suatu peta laut atau terbitan nautis adalah suatu peta atau buku
bertujuan khusus, atau suatu database yang disusun khusus dan merupakan sumber
dasar peta atau buku dimaksud, yang diterbitkan secara resmi oleh atau berdasar
kewenangan suatu pemerintah, dinas hidrografik yang berwenang atau lembaga
pemerintah lain yang relevan dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan navigasi
laut.
Lembaga internasional utama untuk urusan pemetaan adalah
International Hydrographic Organization (IHO). IHO adalah suatu organisasi
konsultatif dan teknis antar pemerintah yang didirikan tahun 1921 untuk
menunjang keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan laut (Anonim,
2010).
2.3.3. Radar

Gambar
3. RADAR
Sumber:
http://www.ranab.se/?page_id=317
Menurut
Wenegerdan paull (2011) dalam Alam
(2013), Radar telah menjadi instrumen yang sangat penting sejak masa Perang
Dunia II. Kapal perang dan pesawat tempur dilengkapi dengan radar untuk
mendeteksi keberadaan musuh. Pada zaman sekarang radar berperan penting dalam
navigasi dan piranti keselamatan pada alat transportasi baik darat, laut,
maupun udara. Bahkan dapat dikatakan bahwa untuk urusan keselamatan di laut,
tidak ada perangkat elektronik lain di kapal yang sepenting radar. Dengan radar
nahkoda dapat mengetahui kondisi di sekeliling kapalnya meliputi garis pantai,
kapal, ataupun objek lainnya. Dengan demikian resiko terjadinya tabrakan dapat
dihindari. Kelebihan radar adalah dapat menampilkan objek di sekeliling radar
tanpa terpengaruh kondisi cuaca bahkan dalam kabut tebal sekalipun atau kondisi
malam yang gelap.
Radar
cuaca juga mampu memantau pergerakan hujan dan awan. Radar cuaca ini tidak
mengukur hujan secara langsung, namun memanfaatkan jumlah energi yang
dipantulkan oleh partikel tetes hujan untuk suatu sampel volume. Jumlah energi
tergantung dari ukuran serta bentuk partikel yang dikenai oleh pancaran radar.
Energi yang diterima saat terjadi hujan, merupakan jumlah dari energi yang
diterima kembali dari jutaan tetes hujan pada suatu sampel volume. Energi yang
diterima tersebut yang akan diolah menggunakan sistem pengolahan sinyal (Ari et al., 2012).
2.3.4. Echo Sounder

Gambar 4. Echo
Sounder
Echo Sounder merupakan salah satu alat yang
penting untuk mengetahui kedalaman laut. Kedalaman dasar laut dapat dihitung
dari perbedaan waktu antara pengiriman dan penerimaan pusat suaradengan
pertimbangan sistim Side Scan Sonar. Kegunaan dasar dari Echo Sounder yaitu
menentukan kedalaman suatu perairan dengan mengirimkan tekanan gelombang dari
permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dri
dasar air (Triyanda, 2013).
Prinsip kerjanya yaitu: pada transmiter
terdapat tranduser yang berfungsi untuk merubah energi listrik menjadi suara.
Kemudian suara yang dihasilkan dipancarkan dengan frekuensi tertentu. Suara ini
dipancarkan melalui medium air yang mempunyai kecepatan rambat sebesar, v=1500
m/s. Ketika suara ini mengenai objek, misalnya ikan maka suara ini akan
dipantulkan. Sesuai dengan sifat gelombang yaitu gelombang ketika mengenai
suatu penghalang dapat dipantulkan, diserap dan dibiaskan, maka hal yang sama
pun terjadi pada gelombang ini (Boy, 2010).
Menurut Triyanda (2011), adapun kegunaan dasar dari Echo Sounder yaitu
menentukan kedalaman suatu perairan dengan mengirimkan tekanan gelombang dari
permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dri dasar air.
Data tampilan juga dpt dikombinasikan dng koordinat global berdasarkan sinyal
dari satelit GPS yang ada dengan memasang antena GPS (jika fitur GPS pada Echo
Sounder ada).
2.3.5. Fish
Finder

Gambar 5. Fish
Finder
Sumber:
http://www.ranab.se/?page_id=317
Fish Finder ialah perangkat elektronik yang
bekerja deengan cara memancarkan gelombang ultrasonik dan menangkap
kembali pantulannya. Perangkat fish
finder yang digunakan untuk memancarkan gelombang dan menangkap gelombang
yang kembali disebut dengan nama transduser.
Proses gelombang pantulan yang berulang-ulang itu ditangkap transduser kemudian diterjemahkan dalam monitor dalam bentuk
titik-titik sehingga menimbulkan topografi dasar perairan (Mahardiansyah,
2012).
Fish Finder adalah
sebuah instrumentasi elektronika yang berfungsi untuk membantu pendektesian
letak ikan secara pasti di perairan yang dalam seperti laut. Informasi yang
diberikan dari penggunaan instrument Fish
Finder ialah informasi mengenail letak / posisi ikan terletak pada
kedalaman berapa di dalam perairan. Fish
Finder menggunakan sistem kerja SONAR (Sound,
Navigation and Ranging). Perangkat-perangkat yang mendukung sistem SONAR
ialah transducer, transmitter, receiver dan
display. Hasil kerja dari sebuah
instrument Fish Finder sendiri juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, seperti diantaranya suhu air,
kecepatan suara yang akan dikirimkan ke objek.
Dari hasil pembacaan gambar topografi akhirnya kita bisa membedakan kekerasan dari topografi struktur
dasar perairan. Biasanya bila keadaan dasar perairan benda yang keras maka
warna di monitor gambarnya lebih pekat. Sebaliknya jika topografi lembek maka
gambar di monitor pun tidak pekat. Komponen dari fish finder antara lain transmitter, transduser, reciever dan recorder. Selain topografi dasar
perairan, gelombang suara yang dipancarkan oleh transduser terkadang mengenai
benda-benda yang melayang dalam air, karena benda tersebut juga memantulkan
gelombang. (Budi, 2012).
2.3.6. ECDIS (Electronic Chart Display and
Information System)

Gambar 6. ECDIS
Menurut Destariana (2010), electronic Chart Display and Information
System (ECDIS) adalah bentuk spesifik dari sistem informasi navigasi
berbasis komputer yang mematuhi regulasi International Maritime Organization
(IMO) dan dapat digunakan sebagai pengganti peta navigasi kertas pada beberapa
area. Tidak semua sistem peta laut elektronik dapat disebut sebagai ECDIS,
tetapi istilah ini sering digunakan secara tidak tepat untuk mengartikan setiap
jenis Electronik Chart System (ECS).
Sistem ECDIS yang sebenarnya menampilkan informasi
dari Electronic Navigational Charts (ENC) dan mengintegrasikan informasi
posisi dari Global Positioning System (GPS) dan sensor navigasi lainnya,
seperti RADAR, fathometer dan Automatic Identification System (AIS).
Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), bersama
dengan Electronic Navigational Charts (ENC) menyediakan untuk pelaut
sebuah sistem navigasi real-time yang mengintegrasikan informasi dari
berbagai sensor. ECDIS merupakan penolong penunjuk arah otomatis yang mampu
secara kontinyu menentukan posisi sebuah kapal dalam hubungannya dengan
daratan, objek-objek yang dipetakan, pertolongan navigasi dan bahaya yang tidak
terlihat. Terdapat dua bentuk dasar peta laut elektronik. Yang pertama,
dilengkapi dengan peraturan IMO untuk kapal-kapal kelas SOLAS yang dikenal
sebagai Electronic Chart Display and Information System (ECDIS).
Yang kedua adalah jenis peta laut elektronik secara umum, atau Electronic
Chart System (ECS) (Destariana, 2010).
2.3.7. Kompas

Gambar 7. Kompas
Menurut Busalim (2005), sejak zaman
dahulu kala orang sudah mulai memikirkan cara untuk mengetahui arah secara
tepat dimana mereka berada. Manusia purba mungkin menggunakan tanda-tanda
seperti batu. pohon atau tanda !ainnya untuk memberikan informasi dimana mereka
berada sehingga mereka tidak tersesat. Bahkan dalam mitologi Yunani sekalipun
disebutkan bahwa dewi Athena berpesan pada Odysseus agar berpedoman pada
bintang agar tidak tersesat dalam perjalanannya. Pelaut handal pada zaman
dahulu juga menggunakan bintang untuk mengetahui arah dalam pelayarannya.
Sayang sekali bagi Odysseus dan para pelaut tersebut karena bintang tidak
tampak pad a siang hari dan pada cuaca buruk. Karena banyak kekurangan pada
sistem navigasi bintang, orang lalu mencoba untuk menemukan cara lain yang
lebih efektif untuk menentukan arah selain berpedoman pada bintang, kemudian
ditemukanlah kompas. Benda in; terbukti sangat efektif karena jarumnya selalu
menunjuk ke arah utara memungkinkan orang untuk menentukan arah dengan tepat.
Dengan prinsip dasar kompas inilah orang kemudian mengembangkan alat yang
bemama sextans, suatu alat yang berfungsi menentukan arah dilaut. Alat
ini bekerja dengan cermin yang mengukur sudut antara bintang, bulan dan
matahari di atas horizon sehingga kemudian dapat ditentukan posisi lintang dari
suatu kapal. Kekurangan alat ini adalah ketidakmampuannya untuk menentukan
pasisi bujur dari kapal. sehingga dirasakan tidak mencukupi kebutuhan navigasi
yang ada.
Kompas merupakan salah satu alat penting
dalam navigasi yang berfungsi menentukan arah berdasarkan pada kutub bumi,
tetapi pada umumnya kompas hanya dirancang dalam bentuk visual, sehingga hanya
dapat digunakan bagi mereka yang dapat melihat (Arief et., al, 2008).
2.3.8. ARPA (Automatic
Radar Plotting Aid)

Gambar 8. ARPA
Sebuah radar maritim
dengan Automatic Radar Plotting Aid (ARPA)
kemampuan dapat membuat trek menggunakan kontak radar. Sistem ini dapat
menghitung saja tracking, kecepatan dan titik terdekat pendekatan (CPA),
sehingga tahu jika ada bahaya tabrakan dengan kapal lain atau daratan. ARPAs
adalah komputer pengolahan data radar dibantu sistem yang menghasilkan vektor
prediksi dan informasi gerakan lainnya kapal. Keuntungan utama ARPA adalah
pengurangan beban kerja personil jembatan dan informasi lebih lengkap dan lebih
cepat pada sasaran yang terpilih. Sebuah ARPA khas memberikan presentasi dari
situasi saat ini dan menggunakan teknologi komputer untuk memprediksi situasi
masa depan. Sebuah ARPA menilai risiko tabrakan, dan memungkinkan operator
untuk melihat manuver yang diusulkan oleh kapal sendiri (Anonim, 2010).
Pada kebanyakan ARPA, data diproses setelah tertangkap
oleh cursor atau bila pada plotting otomatis, proses terjadi secara
bertahap dari daerah yang mendapat prioritas. Target yang ditangkap ARPA adalah
target-target yang masuk ke dalam ‘grid’ dan mampu diproses oleh ARPA. Dalam
mencari target yang diminta, Grid tersebut pertama akan membesar sampai
batas maximum. Bila target masuk kedalam grid, kemudian grid akan mengecil sambil memproses data. Tetapi
apabila target terlalu kecil dan grid mengecil sampai minimum belum
mampu diproses, maka akan terjadi lost tracking (misalnya terjadi target
yang sangat lemah sinyalnya pada layar Radar atau target-target yang labil dan
kecil). Apabila pada saat grid membesar sampai batas maximum target tidak
masuk kedalamnya maka terjadi pula lost-tracking. Bila target tertangkap dan mampu diproses
oleh ARPA maka akan tergambar dengan simbol-simbol tertentu yang menunjukkan
target tersebut aman atau berbahaya (Syahputra, 2012).
2.3.9. GMDSS

Gambar 9. GMDSS
Sumber: http://jakartacity.olx.co.id/hf-ssb-gmdss-samyung-srg-1150-murah-dan-bergaransi-iid-440577078
Menurut Jauhari (2011), Global Maritime Distress and Safety System
(GMDSS) adalah Perjanjian internasional yang mengatur prosedur keselamatan,
jenis peralatan, dan prosedur komunikasi yang digunakan untuk meningkatkan
keselamatan dan membuat prosedur yang lebih mudah untuk memberi pertolongan
kepada kapal, pesawat udara dan alat
angkut lain nya yang mengalami marabahaya. Sistem komunikasi GMDSS dirancang
khusus untuk keperluan penanganan isyarat marabahaya dan keselamatan di laut
berlaku diseluruh dunia, sistem ini memiliki kemampuan untuk dapat menerima dan
mengirimkan sinyal-sinyal marabahaya yang dikirimkan melalui kapal yang sedang
mengalami musibah, sehingga kapal-kapal lain yang berada di sekitar lokasi
musibah dapat memberikan pertolongan dengan keterlambatan waktu sekecil
mungkin.
GMDSS terdiri dari beberapa sistem,
beberapa di antaranya baru tetapi kebanyakan peralatan tersebut telah diterapkan
selama bertahun-tahun. System tersebut berfungsi untuk: bersiap-siaga (termasuk
memantau posisi dari unit yang mengalami kecelakaan), mengkoordinasikan Search and Rescue, mencari lokasi
(mengevakuasi korban untuk kembali ke daratan), menyiarkan informasi maritim
mengenai keselamatan, komunikasi umum, dan komunikasi antar kapal. Radio
komunikasi yang spesifik diperlukan sesuai dengan daerah operasi kapal, bukan
berdasarkan tonage kapal tersbut.
Sistem tersebut juga terdiri dari peralatan pemancar sinyal berulang sebagai
tanda bahaya, serta memiliki sumber power daurat untuk menjalankan fungsinya
(Baskara, 2011)
Menurut Baskara (2011), kapal-kapal yang
berfungsi sebagai sarana rekreasi tidak memerlukan peralatan yang sesuai dengan
radio GMDSS, tetapi sangat disarankan memakai Radio VHF Digital Selective Calling (DSC), begitu pula untuk sarana-sarana
yang berkaitan dengan offshore system
dalam waktu dekat harus menggunakan peralatan tersebut. Kapal-kapal di bawah
300 GT tidak termasuk dalam peraturan yang mewajibkan pemakaian GMDSS.
2.3.10. AIS (Automatic
Identification System)

Gambar 10. AIS (Automatic
Identification System)
AIS (Automatic Identification System) adalah
sistem pelacak kapal jarak pendek, digunakan pada kapal dan stasiun pantai
untuk mengidentifikasi dan melacak kapal dengan menggunakan pengiriman data
elektronik dengan kapal lainnya dan stasiun pantai terdekat lainnya. AIS
ditujukan untuk membantu awak kapal dalam bernavigasi dan memungkinkan pihak
berwenang maritim untuk melacak dan membetu gerakan kapal. Jarak jangkau AIS
sendiri secara horizontal sejauh 74 km dan vertikal sejauh 400 km (Wahyono et., al, 2012).
AIS yang digunakan pada peralatan navigasi untuk
menghindari kecelakaan akibat tabrakan. Karena keterbatasan dari kemampuan
radio, dan karena tidak semua kapal yang dilengkapi dengan AIS, sistem ini yang
diutamakan untuk digunakan sebagai alat peninjau dan untuk menghindari resiko
tabrakan daripada sebagai sistem pencegah tabrakan secara otomatis. AIS
ditujukan untuk membantu awak kapal dalam bernavigasi dan memungkinkan pihak
berwenang maritim untuk melacak dan memantau gerakan kapal, Sistem AIS
terintegrasi dari Radio VHF transceiver
standar dengan Loran-C atau Global
Positioning System (GPS), dan dengan sensor navigasi elektronik
lainnya, seperti gyrocompass
dan lain-lain (Anonim, 2012).
2.3.11.
Pembaringan

Gambar 11. Pembaringan
Menurut Prasetyo (2012), alat navigasi kapal merupakan suatu
yang sangat penting dalam menentukan arah kapal, pada zaman dahulu kala Untuk
menentukan arah kapal berlayar tidak jauh dari benua atau daratan. Alat
komunikasi kapal digunakan untuk berhubungan antara awak kapal yang berada pada
satu kapal atau dapat digunakan untuk komunikasi dengan kapal lain dan atau
berkomunikasi dengan darat. Navigasi adalah suatu proses mengendalikan gerakan
alat sehingga dapat menjamin terciptanya
aspek-aspek ekonomis dalam asas Bussines to Bussines. Sistem navigasi memiliki kelebihan dalam
dunia industri maupun perorangan, antara lain:
1. Menentukan
tempat kedudukan (posisi) dimana objek berada di permukaan bumi.
2. Mempelajari
serta menentukan rute/jalan yang harus ditempuh agar kapal dengan aman, cepat,
selamat, dan efisien sampai ke tujuan.
3. Menentukan
haluan antara tempat tolak dan tempat tiba yang diketahui sehingga jauhnya/jaraknya dapat
ditentukan.
4. Menentukan
tempat tiba bilamana titik tolak haluan dan jauh diketahui. Untuk dapat mengendalikan, menginformasikan dengan
lancar, aman dan efisien di semua perairan,
dibutuhkan navigator yang handal dengan keahlian teori dan praktek yang
dilaksanakan dengan baik.
Menurut Adi dan Djaja (2008), jika kita sudah mengetahui
kedudukan (posisi kapal) kita maka kita memilik titik tolak terpercaya untuk
berbagai bagian kebijakan navigasi yaitu menentukan arah ke titik yang dituju,
menghindari rintangan dan bahaya lainnya, dan menentukan ruas yang dialami.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh baringan dapat diformulasikan sebagai
berikut:
a. Titik yang dibaring
harus merupakan titik yang denal;
b. Alat alat baringn yang
pergunakan harus terpasang dengan baik;
c. Baringa harus
dilakukan dengan cermat dan teliti;
d. Koreksi-koreksiyang
digunakan harus terpercaya;
e. Titik
dikenal yang lebih dekat letaknya, merupakan pilihan yang baik pada titik yang
jauh dari kapal.
Macam-macam
garis baringan dikapal antara lain sebagai berikut:
a.
Baringan sejati (Bs), adalah sudut antara utara sejati dengan garis
baringan,dihitung dari utara ke kanan;
b. Baringan magnet (Bm), adalah sudut antara
utara magnet dengan garis baringan, dihitung dari utara ke kanan;
c. Baringan pedoman (Bp) adalah sudut antara
utara pedoman dengan garis baringan dihitung dari utara ke kanan.
Rumus-rumus:
1. Bp
+ Deviasi =Bm
2. Bm
+ Variasi = Bs
3. Bp
+ Sembir = Bs
4. Bp
- Bs = Sbr
5. Bs
– Variasi = Bm
6. Bm
– Deviasi = Bp
7. Bs
– Sembir = Bp
Pengelompokan
baringan benda, suatu benda dibaring satu kali dan pengelompokan baringan itu
sendiri meliputi baringan dengan jarak, baringan dengan peruman, baringan
dengan garis tinggi, dan baringan suatu benda dibaring dua kali yaitu baringan
dengan geseran, baringan sudut berganda, baringan mendapat sudut 45°, baringan
istimewa. Pada baringan yang dibaring dua benda adalah baringan silang dan juga
baringan silang dengan geseran.Dibaring dua benda yang dikenal berturut-turut
dengan pedoman misalnya tanjung I dan tanjung II akan diperoleh Baringan
Pedoman I (Bp. I) dan Baringan Pedoman II (Bp. II). Baringan-baringan sejati
itu dilukis dipeta, ditarik dari benda-benda yang dibaring, dengan arah yang
berlawanan. Dimana kedua garis baringan sejati dipeta akan berpotongan,
disitulah posisi kapal (S) diposisi kapal ditulis jam, tanggal saat melakukan
baringan.
III. MATERI
DAN METODE
3.1. Materi
3.1.1. Alat
Alat yang digunakan
dalam praktikum Navigasi adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Alat yang digunakan dalam Praktikum Navigasi
|
No
|
Alat
|
Ketelitian
|
Kegunaan
|
|
1
|
Kamera
|
-
|
Untuk dokumentasi kegiatan praktikum
|
|
2
|
Alat tulis
|
-
|
Untuk mencatat hasil praktikum
|
|
3
|
Penggaris
|
0,1 cm
|
Untuk membantu membuat plotting
|
|
4
|
Busur lingkaran 360o
|
1o
|
Untuk membantu dalam menggambar plotting
|
|
5
6
|
Kompas baring
Modul
|
1o
-
|
Untuk melakukan pembaringan
Untuk memahami kompetensi konsep mata kuliah yang akan di praktikumkan
|
Sumber: Praktikum Navigasi 2014.
3.1.2. Bahan
Bahan yang digunakan
pada saat praktikum Navigasi adalah buku referensi Navigasi dan materi dari
Balai Besar Pengembangan Ikan (BBPPI) Semarang.
3.2.Metode
Metode
yang digunakan saat praktikum Navigasi adalah metode deskriptif. Metode
deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian
deskriptif mempelajarai masalah-masalah dalam masyarakat serta tatacara yang
berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang
hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta
proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu
fenomena. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan
fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu setudi komparatif .
adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, seerta penelitian terhadap
fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu setandar atau suatu norma tertentu
sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei
normatif (normative survey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki
kedudukan fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu factor dengan
factor yang lain. Karenanya, metode
deskriptif juga dinamakan studi status (Sutarto,1989).
3.2.1. Metode praktikum
Praktikum
Navigasi ini dilakukan dengan metode survey
deskriptif yang dilakukan dengan
cara mengumpulkan data dan informasi tentang alat-alat navigasi yang terdapat
pada Ruang Simulasi, Ruang Navigasi, Ruang Mesin, dan
Ruang Kapal di Balai
Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang, Jawa Tengah.
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey deskriptif. Soehartono
(1995) dalam Anonim (2011) mengemukakan bahwa metode survey merupakan metode
untuk memperoleh data yang ada pada saat penelitian dilakukan. Data dapat
dilakukan melalui beberapa teknik, seperti wawancara dan pengamatan atau
observasi. Metode survey ini dapat berupa survey deskriptif bertujuan untuk
memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau suatu kelompok orang tertentu
atau gambaran tentang suatu gejala atau h ubungan antara dua gejala atau lebih. Penelitian deskriptif seperti ini
menggunakan metode survey, sedangkan teknik pengambilan data yang digunakan
adalah studidokumentasi, studi literature,
dan wawancara.
3.2.2.
Metode pengumpulan data
1). Observasi
Menurut Sa’duddin
(2011), observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematis atas
fenomena-fenomena yang diteliti. Observasi secara sempit dapat diartikan
sebagai pengamatan secara langsung terhadap gejala yang diselidiki baik dalam
situasi alamiah ataupun situasi buatan. Pengertian observasi secara luas adalah
pengamatan yang dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan alat-alat
bantu yang sudah dipersiapkan sebelumnya maupun yang diadakan khusus untuk
keperluan tersebut.
2). Studi pustaka
Menurut Berliano
(2007), studi pustaka adalah suatu pembahasan yang berdasarkan pada buku-buku
referensi yang bertujuan untuk memperkuat materi pembahasan maupun sebagai
dasar untuk menggunakan rumus-rumus tertentu dalam menganalisa dan mendesain
suatu struktur. Studi pustaka digunakan untuk memecahkan masalah yang ada, baik
untuk menganalisa faktor - faktor dan data pendukung maupun untuk merencanakan
konstruksi, maka pada bagian ini kami menguraikan secara global pemakaian
rumus-rumus dan persamaan yang akan digunakan untuk memecahkan masalah yang
ada.
3). Wawancara
Wawancara adalah suatu
cara mengumpulkan data dengan cara mengajukan pertanyaan langsung kepada
seorang informan atau autoritas atau seorang ahli yang berwenang dalam suatu
masalah. Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab
sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berlandaskan kepada tujuan
penelitian. Tanya jawab ‘sepihak’ berarti bahwa pengumpul data yang aktif
bertanya, sermentara pihak yang ditanya aktif memberikan jawaban atau
tanggapan. Dari definisi itu, kita juga dapat mengetahuibahwa Tanya jawab
dilakukan secara sistematis, telah terencana, dan mengacu pada tujuan
penelitian yang dilakukan (Merlita, 2011).
4). Dokumentasi
Menurut Efendi (2012),
dokumentasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu
yang tertulis, tercetak atau terekam yang dapat dipakai sebagai bukti atau
keterangan. Adapun definisi dokumentasi adalah pemberian atau pengumpulan
bukti-bukti dan keterangan. Dokumentasi adalah kumpulan dari dokumen-dokumen
yang dapat memberikan keterangan atau bukti yang berkaitan dengan proses
pengumpulan dan pengelolaan dokumen secara sistematis serta menyebar
luaskan kepada pemakai informasi tersebut.
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1. Ruang
Navigasi
Berdasarkan praktikum yang telah
dilakukan di peroleh data alat-alat navigasi yang berada di ruang navigasi yang
terdapat pada tabel berikut :
Tabel 2. Alat navigasi yang berada di ruang navigasi.
|
No.
|
Nama Alat
|
Merk
|
Fungsi
|
|
1.
|
Radio GMDSS
|
FURUNO
|
Untuk mengirim dan menerima informasi
ke setiap kapal dan stasiun pantai
|
|
2.
|
GPS Plotter
|
FURUNO
|
Untuk plotting, menentukan posisi kapal, membuat trek pelayaran
|
|
3.
|
Fish
Finder
|
FURUNO
|
Mengetahui kedalaman, ikan, suhu,
kecepatan kapal, pendugaan gerombolan ikan secara vertikal
|
|
4.
|
Radio SSB
|
FURUNO
|
Menggunakan gelombang bannel untuk memperoleh informasi
|
|
5.
|
Radio VHF
|
FURUNO
|
Menggunkan gelombang bannel dengan suara yang lebih jelas
|
|
6.
|
ARPA
|
FURUNO
|
Mengetahui benda-benda yang berada di
atas permukaan air.
|
|
7.
|
SART
|
FURUNO
|
Memberikan sinyal satelit ke stasiun
pantai atau stasiun pusat.
|
Sumber: Praktikum Navigasi 2014.
Lanjutan Tabel 2.
Alat navigasi yang berada di ruang navigasi.
|
No.
|
Nama Alat
|
Merk
|
Fungsi
|
|
8.
|
EPIRB
|
FURUNO
|
Alat pemancar sinyal ketika kapal tenggelam.
|
|
9.
|
Naftex
|
FURUNO
|
Berisi tentang informasi navigasi mengenai berita cuaca pendek.
|
|
10.
|
Marsat
|
FURUNO
|
Menyampaikan informasi cuaca secara lebih detail.
|
|
11.
|
SONAR
|
FURUNO
|
Menyampaikan informasi mengenai area, volume gerombolan ikan,
kedalaman ikan, kecepatan renang ikan, kedalaman jarring
|
Sumber:
Praktikum Navigasi 2014.
Berdasarkan praktikum
yang telah dilakukan, di dalam ruang navigasi terdapat berbagai macam alat
perlengkapan kapal. Alat-alat yang ada di dalam ruang navigasi merupakan alat
yang ada di dalam sebuah kapal, alat-alat tersebut antara lain adalah sebagai
berikut :
1.
GMDSS (Global Maritime Distress
Safety System)
Merupakan
alat yang digunakan untuk menerima informasi dan juga mengirim data. GMDSS (Global Maritime Distress Safety
System). Ruang
navigasi ini juga terdapat radio yang berjumlah tiga yaitu Radio VHF (Very High
Frequency), Radio SSB, dan Navtex. Menurut Baskara (2011) yang menjelaskan bahwa GMDSS (Global Maritime Distress Safety
System) adalah suatu paket keselamatan yang disetujui secara Internasional
yanng terdiri dari prosedur keselamatan, jenis-jenis peralatan,
protokol-protokol komunikasi yang dipakai untuk meningkatkan keselamatan dan
mempermudah saat menyelamatkan kapal, perauh, ataupun pesawat terbang yang
mengalami kecelakaan.
2.
GPS (Global Positioning System)
Global Positioning System atau
yang sering dikenal dengan nama GPS ini adalah salah satu bagian dari alat
navigasi. GPS merupakan alat untuk mengetahui posisi kita berada. Selain itu
GPS juga berfungsi untuk menentukan rute daerah yang dangkal di suatu lingkungan
perairan, apabila telah mengetahui letak dangkalnya tidak memungkinkan untuk
berlayar disuatu perairan tertentu maka tidak boleh diterjang. Dengan GPS plotter maka dapat menentukan perencanaan
pelayaran, kebutuhan bahan bakar sampai tujuan, jarak tempuh, dan kemungkinan
sampai. Menurut
Habibie (2006) yang menerangkan bahwa melalui GPS kita dapat mengetahui keberadaan suatu objek itu berada di
seluruh muka bumi baik di darat, laut maupun udara.
3.
Fish
finder
Fish
finder merupakan alat navigasi yang digunakan untuk
menentukan suatu gerombolan ikan yang berada di wilayah perairan. Fish finder juga dapat memberikan
informasi mengenai bentuk dasaran laut. Biasanya alat ini digunakan untuk alat
tangkap Trawl yang bekerja pada
wilayah dasaran. Penentuan gerombolan ikan ini dilakukan secara vertikal. Alat
ini juga bisa menentukan suatu kedalaman
dan suhu permukaan di dalam suatu perairan. Menurut Kail Pancing
Community menerangkan bahwa Selain topografi
dasar perairan, gelombang suara yang dipancarkan oleh transduser terkadang mengenai benda-benda yang melayang dalam air,
karena benda tersebut juga memantulkan gelombang. Benda yang melayang itu pun
bisa terbaca dalam monitor fish finder.
4.
Radio SSB
Radio
SSB adalah alat navigasi yang menggunakan gelombang rendah dan memiliki
jangkauan yang cukup jauh. Alat ini digunakan untuk pertukara informasi antar
kapal, dan juga sebagai alat untuk menghubungi kapal pandu ataupun ke
stasiun-stasiun pantai. Radio SSB ini sendiri terdapat tombol distress, tombol ini berfungsi apabila
ada gangguan maka kita bias meminta bantuan pada kapal-kapal lain. Tombol ini
juga berkaitan dengan lampu bantuan, apabila lampu yang berwarna merah masih
menyala diartikan bantuan masih dibutuhkan dan juga akan memanggil terus.
5.
Radio VHF (Very High
Frequency)
Radio
VHF (Very High Frequency)
ini termasuk alat navigasi pada kapal yang tidak boleh digunakan apabila tidak
sesuai prosedur. Pilihan channel yang ada yaitu antara channel 1-88. Radio
ini memiliki channel khusus yaitu
pada channel 16 yang tidak dapat digunakan secara sembarangan.
Channel ini merupakan channel internasional yang digunakan untuk mencari informasi penting dan emergency.
Radio ini bisa digunakan apabila masih berada pada jangkauan 15-30 mil.
6.
ARPA (Automatic Indetification
Plotting Aid)
Dunia
navigasi tidak asing dengan alat yang di sebut ARPA. Alat ini juga sering
disebut dengan mata malam harinya kapal sebab alat ini juga bisa digunakan
apabila ada ABK (Anak Buah Kapal) yang hilang. ARPA menggunakan radar yang
lebih canggih dan bisa mendeteksi apabila terdapat benda-benda asing di
permukaan sehingga
mencegah terjadinya tabrakan. Menurut Adi dan Indra (2008),
Sebuah
pemancar Radar kapal maupun di darat akan menghasilkan pulsa-pulsa pendek dari
gelombang-gelombang radio, melalui scanner Radar pancaran pulsa-pulsa tersebut
diarahkan pada area dan obyek yang berada disekeliling kapal. Jika salah satu
gelombang radio dari pulsa-pulsa ini mengenai suatu target misalnya sebuah
kapal lain, maka sebagian energy akan dipantulkan oleh kapal tersebut kesegala
arah, termasuk dikembalikan kearah kapal yang memancarkan pulsa gelombangradio
tersebut.
7.
SART
Alat
navigasi juga dilengkapi dengan SART. SART ini digunakan apabila terjadi hal
diluar dugaan, semisal kapal tenggelam. Kapal yang tenggelam apabila memiliki
alat yang disebut SART ini, maka SART akan muncul di bagian permukaan laut.
SART ini memancarkan sinyal satelit kepada stasiun-stasiun kapal ata ke pusat
SART sehingga informasi tersebut akan muncul di transounder dan segera mendapat pertolongan. Pusat SART terdapat di
Amerika. Menurut Adminda (2011) yang menjelaskan bahwa Instalasi GMDSS pada kapal memiliki satu atau lebih peralatan
SART yang dipakai untuk melacak lokasi dari survival
craft atau kapal yang mengalami kecelakaan dengan cara memancarkan sinyal
berupa rangkaian titik pada layar radar kapal-kapal SAR. Ketika terdeteksi oleh
radar, SART akan memencarkan sinyal audio dan visual.
8.
EPIRB
(Emergency Position Indicating Radio
Beacon)
EPIRB (Emergency
Position Indicating Radio Beacon) merupakan alat darurat yang dapat
memancarkan sinyal ketika kapal tenggelam. Alat ini biasanya terdapat di bagian
paling tinggi di kapal. EPIRB (Emergency
Position Indicating Radio Beacon) menggunakan tenaga batrei sehingga tidak
dapat bertahan lama. Kapal yang dilengkapi dengan EPIRB ketika kapal tenggelam
EPIRB akan memancarkan sinyal ke SART.
SART (Search Rescue Radar Transfonder)
dibawa oleh salah satu awak yang tenggelam sehingga dapat ditemuka. Kapal yang
dilengkapi EPIRB juga dilengkapi dengan SART.
9.
Navtex
Radio
GMDSS juga dilengkapi dengan navtex, navtex merupakan alat informasi navigasi
di dalam pelayaran yang berupa berita singkat ataupun berita pendek. Navtex memperikan informasi keadaan cuaca di laut. Menurut
oleh Baskara (2011) yang menjelaskan bahwa sistem satelit yang dioperasikan
oleh Inmarsat yang berada dibawah
kontrak IMSO (Internasional Mobile
Satelite Organization), juga merupakan elemen penting dari sistem GMDSS.
10.
Marsat
Alat
navigasi yang digunakan dalam hal komunikasi salah satunya adalah marsat. Marsat digunakan untuk mengirim fax,
untuk telepon dan juga untuk mengirim berita navigasi dari navtex. Berita yang dikirimkan yaitu tentang adanya
gelombang, tekanan tinggi, arus, angin kencang atau badai yang dikirimkan
melalui satelit secara lebih detail.
11.
SONAR (Sound Navigation And Ranging)
SONAR
merupakan alat navigasi yang memiliki fungsi yang sama seperti fish finder. Hal yang membedakannya
adalah pada fish finder penentuan
akan adanya gerombolan ikan di suatu perairan dilakukan secara vertikal,
sedangkan pada SONAR penentuan gerombolan ikan yang ada di perairan di lakukan
secara horizontal pada sonar
terdapat informasi mengenai area, volume gerombolan ikan, kedalaman ikan,
kecepatan renang ikan, kedalaman jarring, dan masih banyak lagi.
Menurut Garcia (2009) yang menerangkan bahwa, SONAR merupakan sistem yang
menggunakan gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk
mendeteksi dan menetapkan lokasi obyek di bawah laut atau untuk mengukur jarak
bawah laut. Sejauh ini sonar telah luas digunakan untuk mendeteksi kapal selam dan
ranjau, mendeteksi kedalaman, penangkapan ikan komersial, keselamatan
penyelaman, dan komunikasi di laut.
4.2. Ruang
Kapal KM Trevally
Hasil
yang didapat dari Praktikum Navigasi pada ruang navigasi kapal dapat tersaji
pada tabel berikut:
Tabel 3. Alat-alat
navigasi di ruang kapal.
|
No
|
Nama
Alat
|
Merk
|
Fungsi
|
|
1.
|
GPS
Plotter
|
FURUNO
|
Mengetahui
tampilan garis pantai dan letak garis lintang atau bujur
|
|
2.
|
Kompas
gyro
|
Tokimec
|
Mengetahui
kedudukan kapal tanpa pengaruhi magnet bumi
|
|
3.
|
Kompas
magnet
|
Tokimec
|
Mengetahui
kedudukan kapal tanpa dipengaruhi oleh medan magnet sekitarnya
|
|
4.
|
RDF
(Radio Direction Finder)
|
TAIYO
|
Alat
penunjuk arah radio buoy dan sebagai penanda pada alat tangkap hanyut
|
|
5
|
Autopilot
|
FURUNO
|
Sistem
kemudi pada kapal
|
Sumber
: Praktikum Navigasi 2014.
Lanjutan Tabel 3. Alat-alat navigasi di ruang kapal.
|
6.
|
RADAR
(Radio Detection and Ranging)
|
FURUNO
|
Mendeteksi
benda-benda yang berada di atas kapal
|
|
7.
|
Echo sounder
|
FURUNO
|
Mengetahui
suara berupa gema bawah laut
|
|
8.
|
Anemometer
|
Marine vane
|
Mengukur
kecepatan angin
|
Sumber:
Praktikum Navigasi 2014.
Pengambilan
data praktikum dilakukan pada ruang anjungan kapal yang merupakan ruang komando kapal di mana
ditempatkan roda kemudi kapal, peralatan navigasi untuk menentukan posisi kapal
berada dan biasanya terdapat juga kamar nakhoda dan kamar radio dan
bagian ruang mesin kapal. Adapun alat yang terdapat pada ruang anjungan KM
Trevally adalah sebagai berikut:
1.
Kompas : Alat navigasi untuk
mencari arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan
dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat. Terdapat dua jenis kompas yaitu
kompas magnetik dan kompas
listrik;
2.
Fish
finder : Alat yang digunakan untuk mengetahui informasi
keberadaan ikan, topografi bawah laut, dan kedalaman laut;
3.
SONAR : Sebuah teknik yang
menggunakan penjalaran suara dalam air untuk navigasi atau mendeteksi kendaraan
air lainnya;
4.
GPS : Alat yang digunakan untuk
menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Menurut Fajriyanto (2009), GPS
adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi dengan menggunakan satelit.
GPS terdiri dari tiga segmen utama yaitu segmen angkasa yang terdiri dari
satelitsatelit yang jumlah keseluruhannya ada 24 buah, segmen kontrol yang
terdiri dari 5 stasiun monitor dan pengontrol satelit yang tersebar merata
dipermukaan bumi, dan segmen pengguna yang terdiri dari pemakai GPS yaitu
alat-alat penerima (receiver) yang
menerima dan mengolah sinyal serta data waktu dari satelit.
5.
Echosounder
: Berdasarkan hasil pengamatan pada
saat praktikum Akustik Kepelautan, sesuai dengan namanya echo yang
berarti gema dalam bahasa Inggris, alat ini mempunyai prinsip memancarkan bunyi
dan kemudian gema-nya atau bunyi pantulannya ditangkap kembali untuk mengetahui
keberadaan benda-benda di bawah air. Echosounder ini
perambatan suaranya secara horisontal, sehingga alat ini dapat lebih melihat
secara luas daerah-daerah yang ada disekitarnya secara global;
Menurut Imron dan
Mulyono (2004), Echosounder adalah
salah satu alat bantu penangkapan yang menggunakan prinsip pengukuran kedalaman
laut berdasarkan pulsa getaran suara. Getaran pulsa-pulsa tersebut dipancarkan
dari tranduser kapal secara vertikal ke dasar laut, selanjutnya permukan dasar
laut akan memantulkan kembali pulsa-pulsa itu kemudian diterima
oleh tranducer kapal. Selang waktu pulsa saat dipancarkan saat
kembali ke receiver dapat dihitung, sedangkan kecepatan membuat suara
di air dapat dikatakan tetep, sehingga setengah waktu tempuh dikalikan dengan
kecepatan suara di air dapat dihitung sebagai kedalaman air.
6.
Radar
: Sonar (Sound Navigation Ranging)
adalah suatu alat yang dikembangkan untuk mendeteksi obyek di bawah air. Alat
sonar paling sederhana mengirimkan getaran bunyi dari sebuahtransduser, dan
kemudian mengukur dengan tepat waktu yang diperlukan getaran bunyi tadi untuk
kembali / memantul ke transduser. Jarak obyek dapat dihitung dengan perbedaan
waktu dan cepat rambat bunyi di air.
Menurut
Furuno (2003) dalam Alam (2013), prinsip kerja radar adalah dengan memancarkan
gelombang radio dari scanner ke arah tertentu. Ketika pulsa menabrak
suatu objek seperti kapal atau pulau maka sebagian energi akan kembali ke scanner
radar. Arah di mana scanner menunjuk ketika pulsa pantulan diterima
merupakan arah dari objek yang menyebabkan pantulan. Waktu yang diperlukan
pulsa pantulan untuk kembali ke scanner merupakan ukuran untuk
menentukan jarak target.
7.
Kemudi : Alat un
tuk mengarahkan kemana kapal akan bergerak, terdapat dua
macam kemudi yaitu kemudi tangan dan kemudi dengan menggunakan remote.
8. Barometer
: sebuah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan udara, barometer umumnya
digunakan dalam peramalan cuaca, dimana tekanan udara yang tinggi menandakan
cuaca yang bagus atau bersahabat, sedangkan tekanan udara yang rendah
menandakan cuaca yang buruk.
9.
Naftek Recorder
: adalah alat yang memberikan informasi mengenai berita yang terjadi di laut,
seperti berita terjadinya kecelakaan kapal, informasi cuaca di laut yang
disampaikan dari darat.
Pengambilan data praktikum juga
dilakukan pada ruang mesin kapal KM Trevally yaitu dengan mengambil data jenis
mesin yang digunakan kapal, isi dari ruang mesin kapal. Kamar Mesin (Engine
Room), suatu ruangan khusus dikapal yang didalamnya dipasang mesin-mesin
yang dibutuhkan untuk operasi kapal (menjalankan kapal/berlayar) serta
muatannya (muat dan bongkar), termasuk untuk penunjang kehidupan awak kapal dan
orang-orang lain diatas kapal. Adapun alat yang terdapat pada
ruang mesin kapal KM Trevally adalah sebagai berikut:
1.
Ruang Kontrol
Mesin (Engine Control Room), salah
satu ruangan didalam kamar mesin dimana semua alat-alat kontrol mesin-mesin
yang beroperasi dipasang, termasuk sistem kontrol energi listrik, agar
pengawasan terhadap mesin-mesin lebih efektif dan efisien.
2.
Mesin Induk (Main Propulsion Engine), suatu instalasi
mesin yang terdiri dari berbagai unit/sistem pendukung dan berfungsi untuk
menghasilkan daya dorong terhadap kapal, sehingga kapal dapat berjalan maju
atau 9 mundur.
4.3. Ruang Bridge Simulator
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di dalam ruang bridge simulator didapatkan alat-alat yang tersaji pada tabel
3.
Tabel 4. Alat-alat navigasi ruang bridge simulator.
|
No
|
Nama Alat
|
Merk
|
Fungsi
|
|
1
|
RADAR
|
FURUNO
|
untuk mendeteksi obyek (target/ sasaran)
|
|
2
|
Echo sounder
|
FURUNO
|
untuk mendeteksi dan mengukur kedalaman air laut
|
|
3
|
ECDIS
|
TRANSAS
|
adalah untuk memback-up peralatan yang ada
|
|
4
|
SONAR
|
FURUNO
|
untuk mendeteksi dan mencari gerombolan ikan terutama ikan-ikan
demersal . Selain itu dapat digunakan untuk melihat bentuk kontur dasar
perairan serta jenis dasar perairan
|
Sumber :
Praktikum Navigasi 2014.
Lanjutan Tabel 4. Alat-alat
navigasi ruang bridge simulator.
|
5
|
Radio VHF
|
FURUNO
|
Untuk komuniksi dengan administrator pelabuhan
|
|
6
|
GPS
|
FURUNO
|
Untuk mengetahui posisi koordinat bumi secara
tepat
|
|
7
|
Peta Laut
|
-
|
Untuk mengetahui alur pelayaran dan mengetahui
berapa jarak yang akan ditempuh dan
berapa bahan bakar yang dibutuhkan.
|
|
8
|
Kemudi
|
-
|
Untuk menggerakkan daun kemudi yang ada di
belakang kapal.
|
|
9
|
Tombol Darurat
|
-
|
Untuk mengarahkan kapal apabila kemudi.
|
|
10
11
|
Tuas
Kompas Magnetik
|
-
-
|
Untuk menggerakkan kapal dengan kecepatan yang
sama apabila dua tuas digerakkan.
Untuk menentukan arah kapal berupa sebuah
panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet
bumi secara akurat.
|
Sumber:
Praktikum Navigasi 2014.
Ruang Simulator diatur sedemikian rupa sehingga
menyerupai aslinya, seperti kita menjadi nahkoda kapal. Pada ruangan ini dilengkapi alat-alat
navigasi sebagai pendukung proses kerja suatu kapal. Ruang simulator itu juga bisa membantu membaca
peta, plotting, membaring, pemanduan buta, manuver kapal, dan membantu
menghindari kecelakaan di laut. Di ruang simulator juga bisa mengetahui
bagaimana cara menjalankan/mengemudikan kapal. Ruangan ini berfungsi sebagai
tempat pembelajaran bagi para pemula ABK kapal sebelum mengoperasikannya
dilautan. Isi dari ruangan navigasi diatursedemikian rupa sehingga tempat
seperti keadaan sebenarnya dilapangan (Yoyok, 2002).
Adapun alat-alat yang ada pada ruangan ini
seperti RADAR, echo sounder, GPS, ECDIS, kompas, peta laut, kemudi, tombol darurat, tuas, dan radio VHF. Alat-alat ini
memiliki kegunaan yang berbeda, namun ada beberapa alat kegunaannya hampir sama
seperti SONAR dan echo sounder.
Radar
adalah kependekan dari Radio detecting and ranging. Radar merupakan
salah satu alat bantu navigasi elektronika, yang digunakan untuk mendeteksi
obyek (target/sasaran) berdasarkan prinsip pengukuran waktu tempuh yang
diperlukan untuk merambatkan pulsa sinyal gelombang elektromagnetik, sejak
sinyal tersebut dipancarkan oleh transmitter hingga gema (echo) yang dipantulkan oleh obyek dan
diterima pada receiver. Sinyal elektromagnetik yang ditampilkan
oleh obyek ke pesawat penerima tersebut selanjutnya tergambar pada layar kaca (Position Plan Indicator atau PPI),
sehingga arah baringan dan jarak pengamat terhadap obyek dapat diketahui. Obyek
pengamatan radar dapat berupa: kapal, pulau, radar reflektor, pelampung
rambu dan benda lainnya yang dapat memantulkan gelombang elektromagnetik,
bahkan awan yang rendah serta hujan pun dapat dideteksi oleh radar.
Fish finder atau echo
sounder yang dalam bahasa Indonesianya disebut Perm Gema adalah merupakan
salah satu peralatan elektronik yang terdapat dikapal, digunakan untuk
mendeteksi dan mengukur kedalaman air laut, serta dapat dimanfaatkan untuk
bernavigasi. Prinsip kerja fish finder
adalah pengukuran kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Pulsa-pulsa
getaran suara tersebut dipancarkan dari transducer kapal merambat
melalui media air laut secara vertikal ke dasar laut, kemudian dasar laut atau
target lainnya seperti ikan dan lain-lain, akan memantulkan pulsa tadi yang
kemudian diterima oleh transducer kapal. Selang waktu pulsa saat
dipancarkan, hingga kembali kembali ke receiver dapat dihitung,
sedangkan kecepatan merambat suara diair laut dapat dikatakan tetap, sehingga
separuh waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara diair dapat dihitung
sebagai kedalaman air. Fungsi dari fish finder ini adalah selain
untuk mengukur kedalaman laut, dapat juga digunakan untuk mendeteksi dan
mencari gerombolan ikan terutama ikan-ikan demersal. Selain itu dapat digunakan
untuk melihat bentuk kontur dasar perairan serta jenis dasar perairan.
SONAR merupakan salah satu alat bantu penangkapan
ikan yang sistem kerjanya hampir sama dengan fish finder,
yaitu menggunakan pulsa suara yang dipancarkan oleh transducer kedalam
laut. Kalau pada fish finder, pancaran pulsa hanya satu arah saja yaitu secara vertikal, sedangkan
pada sonar arah pancaran transducer dapat digerakkan baik
horizontal maupun vertikal, namun pada umumnya penggunaan sonar lebih dititik
beratkan untuk mendeteksi ikan pada arah horizontal atau mendekati arah
horizontal.
ECDIS atau “Electronic
Chart Display and Information System” adalah suatu alat yang fungsi dan sistemnya
dapat memberikan informasi tentang navigasi dan yang kegunannya adalah untuk
memback-up peralatan yang ada, sehingga dapat diterima dan dianggap memenuhi
persyaratan yang ditentukan sesuai aturan V/19 & V/27 dari konvensi SOLAS
1974 & amandemennya. Oleh karena itu peralatan ECDIS ini harus memenuhi
kriteria standart kinerja. Peralatan lain yang digunakan bersamaan dengan ECDIS
adalah ENC (Electronic Navigational
Charts). ENC ini sebenarnya merupakan suatu Data Base yang
distandardisasikan baik mengenai muatan,struktur dan formatnya disesuaikan
untuk digunakan bersama ECDIS namun harus ada persetujuan dari IHO. Demikian juga halnya dengan RCDS (Raster
Chart Display System),yang fungsinya hampir sama dengan ECDIS dan bahkan
juga telah disetujui oleh IMO dan IHO, namun perbedaannya hanya sedikit,yaitu
ECDIS dilengkapi dengan alarm yang langsung berhubungan dengan peta yang
digunakan apabila misalnya posisi atau haluan yang digunakan tidak tepat.
Sedangkan RCDS atau RNC dilengkapi dengan kertas peta (chart
paper) yang
tidak dipunyai oleh ECDIS, dimana ECDIS sendiri hanya menggunakan tampilan yang
hampir sama dengan peta (Destariana,
2010).
Radio VHF merupakan salah satu
alat komunikasi dalam suatu kapal. Radio ini berguna untuk berkomunikasi dengan administrator pelabuhan. Radio VHF merupakan radio yang memberikan informasi laut secara
internasional yang memiliki channel 16.
GPS ini berguna mengetahui posisi koordinat bumi secara tepat yang dapat
secara langsung menerima sinyal dari satelit. Perangkat GPS modern menggunakan
peta sehingga merupakan perangkat modern dalam navigasi. Menurut
Direktorat
Jenderal Perikanan (2003), Global Positioning System (GPS) adalah suatu sistem navigasi
yang memanfaatkan satelit. Penerima GPS memperoleh sinyal dari beberapa satelit
yang mengorbit bumi. Satelit yang mengitari bumi pada orbit pendek ini terdiri
dari 24 susunan satelit, dengan 21 satelit aktif dan 3 buah satelit sebagai
cadangan. Dengan susunan orbit tertentu, maka satelit GPS bisa diterima
diseluruh permukaan bumi dengan penampakan antara 4 sampai 8 buah satelit. GPS
dapat memberikan informasi posisi dan waktu dengan ketelitian sangat tinggi.
Peta laut merupakan suatu
panduan yang harus ada dalam sebuah pelayara. peta ini berguna untuk mengetahui alur pelayaran sehingga dapat
mengetahui berapa jarak yang akan ditempuh
dan berapa bahan bakar yang dibutuhkan. Menurut Anonim (2012), peta-peta diterbitkan menurut
sifat pemakaiannya, misalnya peta untuk penerbangan (aeronautical chart),
peta laut (nautical chart), peta cuaca (weather chart), peta
bintang (star chart) dan lain-lain. Untuk keperluan pelayaran di laut
dipakailah peta laut.
Kompas
magnetik berguna untuk untuk menentukan
arah kapal berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan
dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat. Menurut Arief et., al.,
(2008), kompas merupakan salah satu alat penting dalam navigasi yang berfungsi
menentukan arah berdasarkan pada kutub bumi, tetapi pada umumnya kompas hanya
dirancang dalam bentuk visual, sehingga hanya dapat digunakan bagi mereka yang
dapat melihat
Kemudi berguna untuk
menggerakkan daun kemudi yang ada di belakang kapal. Tuas berguna untuk menggerakkan kapal dengan kecepatan yang
sama apabila dua tuas digerakkan.
Tombol
Darurat yang ada di ruang simulator berguna untuk mengemudikan
kapal apabila kemudi rusak.
Alat-alat navigasi seperti yang disebutkan digunakan pada ruang simulator menyerupai keadaan aslinya. Alat-alat tersebut merupakan alat yang seharusnya ada
dan sangat penting dalam sebuah pelayaran kapal. Ruangan simulator sangat dibutuhkan terutama untuk pembelajaran
para ABK kapal pemula dan navigator sebelum mengoperasikan dan melayarkan kapal.
Praktikum
navigasi dilakukan pada 3 (tiga) ruangan yaitu ruang navigasi, ruang kapal (KM
Trevally) dan ruang simulator memiliki keterkaitan yang erat. Sebagian besar
alat yang terdapat di dalam ruang navigasi a di ruang simulator dan ruang kapal
(ruang navigasi kapal). Begitu juga sebaliknya.
Pada umumnya ruang akomodasi dan
ruang navigasi berada di atas ruangan mesin, maka jika penempatan ruang mesin
berada agak ke depan, maka dengan sendirinya posisi ruang navigasi juga akan
berada agak ke depan, yang mana akan memudahkan awak kapal melakukan navigasi
secara visual, karena halangan (obstacle) pada saat kapal membawa muatan
petikemas penuh, akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan seluruh ruang muat
berada di depan ruang akomodasi dan navigasi (Anonim, 2013).
4.5. Pembaringan
Berdasarkan praktikum yang telah
dilakukan, diperoleh hasil pembaringan
pada dua titik di Gedung C Perikanan tersaji
pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil Pembaringan
|
No
|
Posisi
|
Azimuth
|
Back Azimuth
|
Jarak pada peta (cm)
|
Jarak sebenarnya (m)
|
|
1
|
A - B
|
270o
|
90o
|
10
|
50
|
|
|
C - A
|
170o
|
350o
|
3,5
|
17,5
|
|
|
C - B
|
250o
|
70o
|
10,1
|
50,5
|
|
|
C - AB
|
|
|
5,6
|
28
|
Sumber:
Praktikum Navigasi 2014.
Pembaringan dilakukan di depan
gedung C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Sebelum melakukan teknik
pembaringan, langkah pertama yang dilakukan adalah mengukur panjang gedung C
dari titik A ke titik B, yaitu 50 meter.
Back Azimuth adalah jika derajat pembaringan <180o maka ditambah 180o, dan jika >180o, maka dikurangi 180o. Baringan dilakukan untuk mengetahui posisi
awal pada peta dengan cara membaring dua benda dan mencari perpotongan garis
baringan keduanya. Setelah hasil baringan dipetakan pada peta, kita
dapat mengetahui posisi kita dengan melihat pada peta tersebut.
Membaring dalalah salah satu cara untuk menentukan
posisi suatu tempat berdasarkan koordinator garis lintang dan garis bujur
bumi.Kegiatan ini dilakukan dengan cara menentukan arah atau sudut suatu benda
dari kapal dengan mermperoleh pedoman. Cara membaring ini akan memperoleh sudut
baringan dari dua target baringan yang dikenal dan terdapat di peta laut yang
dapat dilihat secara visual dengan atau alat bantu (Anonim, 2010).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Dari hasil praktikum
navigasi, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.
Sistem navigasi yang digunakan dalam
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan adalah untuk membantu pelayaran kapal
perikanan yaitu untuk memudahkan mengetahui suhu perairan, arah pelayaran,
kedalaman perairan, kepadatan gerombolan ikan;
2.
Alat-alat navigasi yang dapat membantu
dalam kegiatan perikanan adalah decca, omega, sextan, kompas lensa, kompas
silva, kompas prisma, kompas giro, GPS (Global Positioning System),
RADAR, ARPA (Automatic Radar Plotting Aid), SONAR (Sound Navigation
And Ranging), AIS (Automatic Identification System), Radio GMDSS (Global
Maritime Distress Safety System), Echo sounder, fish finder, peta laut, ECDIS, dan pembaringan; dan
3.
Pembaringan dilakukan dengan cara menentukan
target pembaringan dari dua tempat, kemudian dibaring ujung gedung yang satu
dan ujung gedung yang satunya lagi, kemudian didapat hasil baringan dan dapat
di gambar dengan skala di peta.
5.2.
Saran
Saran yang dapat
disampaikan pada praktikum Navigasi 2014 ini adalah:
1.
Sebaiknya saat praktikum alat navigasi
seperti decca, omega dan sextan sehingga praktikan dapat memahami dengan
melihat secara langsung alat navigasi tersebut;
2.
Sebaiknya saat praktikum alat navigasi
yang ada tidak dalam keadaan rusak sehingga praktikan bisa memahami; dan
3.
Sebaiknya saat praktikum pembaringan
tidak hanya memakai satu objek pembaringan saja, tetapi lebih dari satu objek
pembaringan.
Langganan:
Postingan (Atom)