Selasa, 27 Oktober 2015

Sebuah Kata Kerinduan

Ada banyak jalan yang telah aku tempuh
Ada beribu kata yang ingin ku sampaikan 
Sebuah kata kerinduan..
Desah ini selalu mengiringi hari-hariku
Dimana setiap desah ini adalah kamu
Diantara detak jantung yang selalu merindukanmu
Ku melihat seraut wajahmu
Yang menghantui setiap detik malamku
Sejenak ku mendegar suara manis itu di sudut malam-malam ini
Akanku katakan pada awan hitam 
Aku ingin menyapamu
Walau lewat semilir angin malam ini
Talah ku rangkai kata sederet syair indah untukmu...
Berharap engkau juga merindukanku.....

Minggu, 25 Oktober 2015

laporan Navigasi

I. PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Menurut Artiana (2001), dengan semakin meningkatnya teknologi komunikasi dan transportasi, semakin tinggi tingkat interaksi masyarakat Indonesia. Proses globalisasi turut mempercepat interaksi masyarakat Indonesia dengan dunia internasional. Sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu pelayaran juga mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini ditandai dengan banyak diciptakannya kapal-kapal dengan daya tampung dan daya jangkau yang besar, sehingga tuntutan masyarakat akan alat transportasi laut yang cepat, aman, daya tampung besar, dan daya jangkau terpenuhi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut menuntut tenaga kerja yang ahli dan terampil di bidang pelayaran sehingga dapat memanfaatkan kemajuan ilmu dan teknologi pelayaran.
Pemanfaatan sumberdaya perikanan sebagai suatu ilmu di bidang penangkapan sangat perlu untuk mengetahui tentang ilmu navigasi. Ilmu Navigasi dapat memberi wawasan dan pengetahuan kepada mahasiswa tentang berbagai macam alat navigasi yang digunakan dalam kapal, khususnya kapal perikanan. karena saat ini meskipun ilmu navigasi berkembang pesat tidak diimbangi dengan teknologi navigasi pada kapal perikanan di Indonesia dimana masih sangat sedikit yang menggunakan peralatan navigasi.



1.2.    Tujuan
Tujuan praktikum Navigasi adalah sebagai berikut:
1.             Mengetahui sistem navigasi yang digunakan dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan serta mengerti alat dan cara penggunaannya;
2.             Mengetahui macam-macam navigasi dalam dunia perikanan;
3.             Mahasiswa dapat menentukan langkah-langkah pembaringan.

1.3.    Manfaat
Manfaat dari praktikum Navigasi adalah sebagai berikut:
1.       Mahasiswa dapat memahami ilmu navigasi dan mengembangkan ilmu navigasi khususnya dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan;
2.       Mahasiswa dapat menginterpretasikan ilmu pembaringan.

1.4.    Waktu dan Tempat
Praktikum Navigasi ini akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 14 Juni 2014 yaitu Praktikum Pembaringan dilaksanakan di Kampus Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang dan hari Selasa  tanggal 17 Juni 2014 di BBPPI (Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan), Semarang.






II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.    Pengertian Navigasi
Menurut Yudiawan (2002) dalam Sucipto (2005), navigasi adalah suatu proses mengendalikan gerakan alat angkutan baik di udara, di laut atau sungai maupun di darat dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan lancara, aman dan efisien. Seiring dengan perkembangan zaman, modernisasi peralatan navigasi sangat membantu akurasi penentuan posisi kapal di permukaan bumi, sehingga dapat menjamin terciptanya aspek-aspek ekonomis dalam asas “Bussines to Bussines”. Sistem navigasi memiliki kelebihan dalam dunia industry maupun perorangan, antar lain:
1.             Menentukan tempat kedudukan (posisi) dimana objek berada di permukaan bumi.
2.             Mempelajari serta menentukan rute/jalan yang harus ditempuh agar kapal dengan aman, cepat, selamat, dan efisien sampai ke tujuan.
3.             Menentukan haluan antara tempat tolak dan tempat tiba yang diketahui sehingga jauhnya/jaraknya dapat ditentukan.
4.             Menentukan tempat tiba bilamana titik tolak haluan dan jauh diketahui.

2.2.    Macam-macam Navigasi
2.2.1. Navigasi darat
Menurut Sucipto (2005), navigasi darat adalah ilmu yang mempelajari cara seseorang menentukan suatu tempat dan memberikan banyangan medan, baik keadaan permukaan serta bentang alam dari bumi dengan bantuan minimal peta dan kompas. Pekerjaan navigasi darat di lapangan secara mendasar adalah titik awal perjalanan (intersection dan resection), tanda medan, arah kompas, menaksir jarak, orientasi medan dan resection, perubahan kondisi medan dan mengetahui ketinggian suatu tempat. Alat-alat navigasi terdiri dari:
a.              Kompas adalah alat untuk menentukan arah mata angin berdasarkan sifat magnetic kutub bumi. Arah mata angin utama yang bisa ditentukan adalah N (north = utara), S (south = Selatan), E (east = timur), W (west = barat). Serta arah mata angin lainnya yaitu NE (north east = timur laut), SE (south east = tenggara), SW (south west = barat daya), NW (north west = barat laut). Jenis ko,pas yang umum digunakan adalah kompas sylva, kompas orientasi dan kompas bidik/prisma.
b.             Altimeter adalah alat untuk menentukan ketinggian suatu tempat berdasarkan perbedaan tekanan udara.
c.              Peta adalah gambaran sebagian/seluruh permukaan bumi dalam bentuk dua dimensi dengan perbandingan skala tertentu. Jenis-jenis peta terdiri dari peta teknis, peta topografi dan peta ikhtisar/geografi/wilayah. Bagian-bagian peta antara lain judul, nomor, koordinat, skla, kontur, tahun pembuatan, legend, dan deklinasi magnetis.
d.             GPS (Global Positioning System) adalah sistem radio navigasi global yang terdiri dari beberapa satelit dan stasiun bumi. Fungsinya adalah menentukan lokasi, navigasi (menentukan satu lokasi menuju lokasi lain), tracking (memonitor pergerakan seseorang/benda), membuat peta di seluruh permukaan bumi dan menentukan waktu yang tepat di tempat manapun.

2.2.2.   Navigasi Laut
Navigasi laut adalah ilmu yang mempelajari tentang  cara atau bagaimana menganalisa, menentukan juga mempetakan suatu daerah di wilayah perairan. Navigasi laut menggunakan alat seperti gps, peta laut, radar, echo sounder, electronic chart, serta kompas. Dimana alat bantu tersebut mempunyai fungsi dan kegunaan yang berbeda-beda.  Untuk dapat mencapai tujuan selamat, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti : manusianya, alat yang digunakan untuk bernavigasi, dan kapalnya itu sendiri, serta dengan memperhatikan keadaan alam yang mempengaruhinya. Untuk mencapai efficiency yang tinggi, seorang navigator harus memperhatikan semua sarana yang ada dan mampu menggunakannya secara maksimal sesuai dengan keadaan yang ada serta harus memperhatikan jarak yang ditempuh yang sependek mungkin, denagan memperhatikan keselamatan kapal (Arso, 1992).
Lalu lintas pelayaran dewasa ini dipenuhi oleh kapal-kapal tradisional dan modern yang dilengkapi dengan bermacam-macam sistem navigasi antara lain navigasi elektronik. Sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi bidang pelayaran dari tahun ke tahun sistem navigasi elektronik harus dikembangkan dan instrument model terbaru diperkenalkan agar sepenuhnya dapat menunjang keselamatan pelayaran. Pada gilirannya tuntutan kualitas profesional terhadap kemampuan para perwira navigator juga semakin tinggi. Peranan sistem navigasi elektronik dalam penentuan posisi sangat potensial dan merupakan bagian dari kegiatan tugas jaga seorang perwira di anjungan. Pengunaan alat-alat seperti GPS, peta laut, radar, echo sounder, electronic chart, serta kompas sangat penting dalam dunia pelayaran. Dalam dunia penangkapan ikan, alat tersebut sangat besar perannya disamping menggunakan alat bantu pencari (Arso, 1992).

2.3.      Peralatan Navigasi
2.3.1.   GPS
Gambar 1. GPS (Global Positioning System)

Menurut Fajriyanto (2009), GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi dengan menggunakan satelit. GPS terdiri dari tiga segmen utama yaitu segmen angkasa yang terdiri dari satelitsatelit yang jumlah keseluruhannya ada 24 buah, segmen kontrol yang terdiri dari 5 stasiun monitor dan pengontrol satelit yang tersebar merata dipermukaan bumi, dan segmen pengguna yang terdiri dari pemakai GPS yaitu alat-alat penerima (receiver) yang menerima dan mengolah sinyal serta data waktu dari satelit.
Menururt Firdaus (2009), GPS (Global Positioning System) adalah sebuah sistem atau proses untuk menentukan suatu posisi, manapun di planet bumi ini berdasarkan 4 faktor: latitude, longitude, altitude and time. Istilah lengkap GPS adalah NAVSTAR-GPS (Navigation System Timing And Ranging – GPS). Dibangun oleh Departemen Pertahanan U.S.A dengan dua tipe pelayanan: (1) SPS (Standard
Positioning System untuk warga sipil), dan (2) PPS (Precise Positioning System-utk militer). Satelit GPS pertama, diluncurkan pada 22 Februari 1978. Fungsi GPS selain untuk menentukan posisi dari sesuatu benda/hal, GPS digunakan juga untuk : (1) Kecepatan, (2) Percepatan (Akselerasi), (3) Arah laju, dan (4) Ukuran Interval
Menurut Harsono et al. (2006), Data utama yang dihasilkan dari semua penerima GPS adalah data koordinat bujur dan lintang, namun ada dua fitur yang sangat berguna untuk melakukan pemetaan yaitu waypoints dan track-log. Waypoints digunakan untuk merekam titik-titik yang diinginkan secara manual dan penerima GPS yang dipakai dalam paper ini mampu menyimpan hingga 500 titik. Sedangkan track-log digunakan untuk merekam jejak perjalanan secara otomatis dengan resolusi jejak yang bisa diatur. Jumlah titik koordinat yang bisa disimpan dengan fitur ini adalah 10.000 titik tiap track dan mampu menyimpan hingga 20 track. Fitur mana yang akan digunakan adalah tergantung pada peta apa yang ingin dibuat. Misalnya, fitur waypoints cocok dipakai untuk membuat peta letak kantor atau bangunan, dan fitur track-log cocok digunakan untuk membuat peta jalan atau batas wilayah. Demikian seterusnya untuk pembuatan peta yang lain.
Prinsip dasar penentuan posisi dengan GPS adalah seperti pemotongan ke muka (resection) pada survei konvensional. Apabila pada pemotongan data yang diukur adalah sudut, maka pada penentuan posisi dengan GPS data yang diukur adalah jarak dari receiver ke sekurang-kurangnya tiga satelit, maka posisi receiver GPS dapat ditentukan. Untuk penentuan posisi suatu titik (station) pengamatan diperlukan data jarak dari stasiun tersebut ke beberapa satelit GPS yang diamat. Jarak tersebut tidak dapat diukur secara langsung tetapi dengan jalan mengukur misalnya waktu rambat sinyal dari satelit ke stasiun pengamat atau jumlah fase gelombang sinyal yang merupakan fungsi waktu rambat sinyal (Fjariyanto, 2006)
2.3.2.   Peta laut
Gambar 2. Peta Laut

Peta adalah proyeksi bumi atau sebagian dari muka bumi yang digambarkan di atas bidang datar. Pengertian peta lebih menjurus pada keadaan umum, keadaan daratan dan batas-batasnya dilihat dari sudut politis, sedangkan peta lebih mementingkan hal-hal serta keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh seorang navigator untuk dapat menentukan posisi, jarak, haluan serta hal- hal lain demi keselamatan atau keamanan navigasi. Peta-peta diterbitkan menurut sifat pemakaiannya, misalnya peta untuk penerbangan (aeronautical chart), peta laut (nautical chart), peta cuaca (weather chart), peta bintang (star chart) dan lain-lain. Untuk keperluan pelayaran di laut dipakailah peta laut (Anonim, 2012).
Definisi IMO untuk suatu peta laut atau terbitan nautis adalah suatu peta atau buku bertujuan khusus, atau suatu database yang disusun khusus dan merupakan sumber dasar peta atau buku dimaksud, yang diterbitkan secara resmi oleh atau berdasar kewenangan suatu pemerintah, dinas hidrografik yang berwenang atau lembaga pemerintah lain yang relevan dan dirancang untuk memenuhi kebutuhan navigasi laut.
Lembaga internasional utama untuk urusan pemetaan adalah International Hydrographic Organization (IHO). IHO adalah suatu organisasi konsultatif dan teknis antar pemerintah yang didirikan tahun 1921 untuk menunjang keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan laut (Anonim, 2010).
2.3.3.   Radar
http://www.ranab.se/wp-content/uploads/2012/02/m-1715.jpg
Gambar 3. RADAR

Menurut Wenegerdan paull  (2011) dalam Alam (2013), Radar telah menjadi instrumen yang sangat penting sejak masa Perang Dunia II. Kapal perang dan pesawat tempur dilengkapi dengan radar untuk mendeteksi keberadaan musuh. Pada zaman sekarang radar berperan penting dalam navigasi dan piranti keselamatan pada alat transportasi baik darat, laut, maupun udara. Bahkan dapat dikatakan bahwa untuk urusan keselamatan di laut, tidak ada perangkat elektronik lain di kapal yang sepenting radar. Dengan radar nahkoda dapat mengetahui kondisi di sekeliling kapalnya meliputi garis pantai, kapal, ataupun objek lainnya. Dengan demikian resiko terjadinya tabrakan dapat dihindari. Kelebihan radar adalah dapat menampilkan objek di sekeliling radar tanpa terpengaruh kondisi cuaca bahkan dalam kabut tebal sekalipun atau kondisi malam yang gelap.
Radar cuaca juga mampu memantau pergerakan hujan dan awan. Radar cuaca ini tidak mengukur hujan secara langsung, namun memanfaatkan jumlah energi yang dipantulkan oleh partikel tetes hujan untuk suatu sampel volume. Jumlah energi tergantung dari ukuran serta bentuk partikel yang dikenai oleh pancaran radar. Energi yang diterima saat terjadi hujan, merupakan jumlah dari energi yang diterima kembali dari jutaan tetes hujan pada suatu sampel volume. Energi yang diterima tersebut yang akan diolah menggunakan sistem pengolahan sinyal (Ari et al., 2012).
2.3.4.   Echo Sounder
Gambar 4. Echo Sounder

Echo Sounder merupakan salah satu alat yang penting untuk mengetahui kedalaman laut. Kedalaman dasar laut dapat dihitung dari perbedaan waktu antara pengiriman dan penerimaan pusat suaradengan pertimbangan sistim Side Scan Sonar. Kegunaan dasar dari Echo Sounder yaitu menentukan kedalaman suatu perairan dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dri dasar air (Triyanda, 2013).
Prinsip kerjanya yaitu: pada transmiter terdapat tranduser yang berfungsi untuk merubah energi listrik menjadi suara. Kemudian suara yang dihasilkan dipancarkan dengan frekuensi tertentu. Suara ini dipancarkan melalui medium air yang mempunyai kecepatan rambat sebesar, v=1500 m/s. Ketika suara ini mengenai objek, misalnya ikan maka suara ini akan dipantulkan. Sesuai dengan sifat gelombang yaitu gelombang ketika mengenai suatu penghalang dapat dipantulkan, diserap dan dibiaskan, maka hal yang sama pun terjadi pada gelombang ini (Boy, 2010).
Menurut Triyanda (2011), adapun kegunaan dasar dari Echo Sounder yaitu menentukan kedalaman suatu perairan dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dri dasar air. Data tampilan juga dpt dikombinasikan dng koordinat global berdasarkan sinyal dari satelit GPS yang ada dengan memasang antena GPS (jika fitur GPS pada Echo Sounder ada).
2.3.5.   Fish Finder
Gambar 5. Fish Finder

Fish Finder ialah perangkat elektronik yang bekerja deengan cara  memancarkan gelombang ultrasonik dan menangkap kembali pantulannya. Perangkat fish finder yang digunakan untuk memancarkan gelombang dan menangkap gelombang yang kembali disebut dengan nama transduser. Proses gelombang pantulan yang berulang-ulang itu ditangkap transduser kemudian diterjemahkan dalam monitor dalam bentuk titik-titik sehingga menimbulkan topografi dasar perairan (Mahardiansyah, 2012).
Fish Finder adalah sebuah instrumentasi elektronika yang berfungsi untuk membantu pendektesian letak ikan secara pasti di perairan yang dalam seperti laut. Informasi yang diberikan dari penggunaan instrument Fish Finder ialah informasi mengenail letak / posisi ikan terletak pada kedalaman berapa di dalam perairan. Fish Finder menggunakan sistem kerja SONAR (Sound, Navigation and Ranging). Perangkat-perangkat yang mendukung sistem SONAR ialah transducer, transmitter, receiver dan display. Hasil kerja dari sebuah instrument Fish Finder sendiri juga dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, seperti diantaranya suhu air, kecepatan suara yang akan dikirimkan ke objek.
Dari hasil pembacaan gambar topografi akhirnya kita bisa membedakan kekerasan dari topografi struktur dasar perairan. Biasanya bila keadaan dasar perairan benda yang keras maka warna di monitor gambarnya lebih pekat. Sebaliknya jika topografi lembek maka gambar di monitor pun tidak pekat. Komponen dari fish finder antara lain transmitter, transduser, reciever dan recorder. Selain topografi dasar perairan, gelombang suara yang dipancarkan oleh transduser terkadang mengenai benda-benda yang melayang dalam air, karena benda tersebut juga memantulkan gelombang. (Budi, 2012).
2.3.6.   ECDIS (Electronic Chart Display and Information System)
Gambar 6. ECDIS

Menurut Destariana (2010), electronic Chart Display and Information System (ECDIS) adalah bentuk spesifik dari sistem informasi navigasi berbasis komputer yang mematuhi regulasi International Maritime Organization (IMO) dan dapat digunakan sebagai pengganti peta navigasi kertas pada beberapa area. Tidak semua sistem peta laut elektronik dapat disebut sebagai ECDIS, tetapi istilah ini sering digunakan secara tidak tepat untuk mengartikan setiap jenis Electronik Chart System (ECS).
Sistem ECDIS yang sebenarnya menampilkan informasi dari Electronic Navigational Charts (ENC) dan mengintegrasikan informasi posisi dari Global Positioning System (GPS) dan sensor navigasi lainnya, seperti RADAR, fathometer dan Automatic Identification System (AIS). Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), bersama dengan Electronic Navigational Charts (ENC) menyediakan untuk pelaut sebuah sistem navigasi real-time yang mengintegrasikan informasi dari berbagai sensor. ECDIS merupakan penolong penunjuk arah otomatis yang mampu secara kontinyu menentukan posisi sebuah kapal dalam hubungannya dengan daratan, objek-objek yang dipetakan, pertolongan navigasi dan bahaya yang tidak terlihat. Terdapat dua bentuk dasar peta laut elektronik. Yang pertama, dilengkapi dengan peraturan IMO untuk kapal-kapal kelas SOLAS yang dikenal sebagai Electronic Chart Display and Information System (ECDIS). Yang kedua adalah jenis peta laut elektronik secara umum, atau Electronic Chart System (ECS) (Destariana, 2010).
2.3.7.   Kompas
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNjNctWKqFk6j6n_hfeZjrD02tY9k_IcXUnLsAl6JSfjS_dzKPO5ZzcFsuRFCV_RB8HpYDFIdX7MGXz554KpRtwULVcctCmDIfOSE6TWNrhkmAJWUldwlx8MxSZurRCyrxnXQykfRm-cM/s200/kompas+2.jpg
Gambar 7. Kompas

Menurut Busalim (2005), sejak zaman dahulu kala orang sudah mulai memikirkan cara untuk mengetahui arah secara tepat dimana mereka berada. Manusia purba mungkin menggunakan tanda-tanda seperti batu. pohon atau tanda !ainnya untuk memberikan informasi dimana mereka berada sehingga mereka tidak tersesat. Bahkan dalam mitologi Yunani sekalipun disebutkan bahwa dewi Athena berpesan pada Odysseus agar berpedoman pada bintang agar tidak tersesat dalam perjalanannya. Pelaut handal pada zaman dahulu juga menggunakan bintang untuk mengetahui arah dalam pelayarannya. Sayang sekali bagi Odysseus dan para pelaut tersebut karena bintang tidak tampak pad a siang hari dan pada cuaca buruk. Karena banyak kekurangan pada sistem navigasi bintang, orang lalu mencoba untuk menemukan cara lain yang lebih efektif untuk menentukan arah selain berpedoman pada bintang, kemudian ditemukanlah kompas. Benda in; terbukti sangat efektif karena jarumnya selalu menunjuk ke arah utara memungkinkan orang untuk menentukan arah dengan tepat. Dengan prinsip dasar kompas inilah orang kemudian mengembangkan alat yang bemama sextans, suatu alat yang berfungsi menentukan arah dilaut. Alat ini bekerja dengan cermin yang mengukur sudut antara bintang, bulan dan matahari di atas horizon sehingga kemudian dapat ditentukan posisi lintang dari suatu kapal. Kekurangan alat ini adalah ketidakmampuannya untuk menentukan pasisi bujur dari kapal. sehingga dirasakan tidak mencukupi kebutuhan navigasi yang ada.
Kompas merupakan salah satu alat penting dalam navigasi yang berfungsi menentukan arah berdasarkan pada kutub bumi, tetapi pada umumnya kompas hanya dirancang dalam bentuk visual, sehingga hanya dapat digunakan bagi mereka yang dapat melihat (Arief et., al, 2008).
2.3.8.   ARPA (Automatic Radar Plotting Aid)
Gambar 8. ARPA

Sebuah radar maritim dengan Automatic Radar Plotting Aid (ARPA) kemampuan dapat membuat trek menggunakan kontak radar. Sistem ini dapat menghitung saja tracking, kecepatan dan titik terdekat pendekatan (CPA), sehingga tahu jika ada bahaya tabrakan dengan kapal lain atau daratan. ARPAs adalah komputer pengolahan data radar dibantu sistem yang menghasilkan vektor prediksi dan informasi gerakan lainnya kapal. Keuntungan utama ARPA adalah pengurangan beban kerja personil jembatan dan informasi lebih lengkap dan lebih cepat pada sasaran yang terpilih. Sebuah ARPA khas memberikan presentasi dari situasi saat ini dan menggunakan teknologi komputer untuk memprediksi situasi masa depan. Sebuah ARPA menilai risiko tabrakan, dan memungkinkan operator untuk melihat manuver yang diusulkan oleh kapal sendiri (Anonim, 2010).
Pada kebanyakan ARPA, data diproses setelah tertangkap oleh cursor atau bila pada plotting otomatis, proses terjadi secara bertahap dari daerah yang mendapat prioritas. Target yang ditangkap ARPA adalah target-target yang masuk ke dalam ‘grid’ dan mampu diproses oleh ARPA. Dalam mencari target yang diminta, Grid tersebut pertama akan membesar sampai batas maximum. Bila target masuk kedalam grid, kemudian grid  akan mengecil sambil memproses data. Tetapi apabila target terlalu kecil dan grid mengecil sampai minimum belum mampu diproses, maka akan terjadi lost tracking (misalnya terjadi target yang sangat lemah sinyalnya pada layar Radar atau target-target yang labil dan kecil). Apabila pada saat grid membesar sampai batas maximum target tidak masuk kedalamnya maka terjadi pula lost-trackingBila target tertangkap dan mampu diproses oleh ARPA maka akan tergambar dengan simbol-simbol tertentu yang menunjukkan target tersebut aman atau berbahaya (Syahputra, 2012).
2.3.9.   GMDSS
http://images03.olx.co.id/ui/3/78/78/1348289318_440577078_1-Gambar--HF-SSB-GMDSS-SAMYUNG-SRG-1150-Murah-dan-Bergaransi.jpg
Gambar 9. GMDSS

Menurut Jauhari (2011), Global Maritime Distress and Safety System (GMDSS) adalah Perjanjian internasional yang mengatur prosedur keselamatan, jenis peralatan, dan prosedur komunikasi yang digunakan untuk meningkatkan keselamatan dan membuat prosedur yang lebih mudah untuk memberi pertolongan kepada  kapal, pesawat udara dan alat angkut lain nya yang mengalami marabahaya. Sistem komunikasi GMDSS dirancang khusus untuk keperluan penanganan isyarat marabahaya dan keselamatan di laut berlaku diseluruh dunia, sistem ini memiliki kemampuan untuk dapat menerima dan mengirimkan sinyal-sinyal marabahaya yang dikirimkan melalui kapal yang sedang mengalami musibah, sehingga kapal-kapal lain yang berada di sekitar lokasi musibah dapat memberikan pertolongan dengan keterlambatan waktu sekecil mungkin.
GMDSS terdiri dari beberapa sistem, beberapa di antaranya baru tetapi kebanyakan peralatan tersebut telah diterapkan selama bertahun-tahun. System tersebut berfungsi untuk: bersiap-siaga (termasuk memantau posisi dari unit yang mengalami kecelakaan), mengkoordinasikan Search and Rescue, mencari lokasi (mengevakuasi korban untuk kembali ke daratan), menyiarkan informasi maritim mengenai keselamatan, komunikasi umum, dan komunikasi antar kapal. Radio komunikasi yang spesifik diperlukan sesuai dengan daerah operasi kapal, bukan berdasarkan tonage kapal tersbut. Sistem tersebut juga terdiri dari peralatan pemancar sinyal berulang sebagai tanda bahaya, serta memiliki sumber power daurat untuk menjalankan fungsinya (Baskara, 2011)
Menurut Baskara (2011), kapal-kapal yang berfungsi sebagai sarana rekreasi tidak memerlukan peralatan yang sesuai dengan radio GMDSS, tetapi sangat disarankan memakai Radio VHF Digital Selective Calling (DSC), begitu pula untuk sarana-sarana yang berkaitan dengan offshore system dalam waktu dekat harus menggunakan peralatan tersebut. Kapal-kapal di bawah 300 GT tidak termasuk dalam peraturan yang mewajibkan pemakaian GMDSS.
2.3.10. AIS (Automatic Identification System)
https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ66ycU5tdR7gJ2ldG3mH7NWU-c7oUAhEwU-XhZHUy1_Skm750D
Gambar 10. AIS (Automatic Identification System)

AIS (Automatic Identification System) adalah sistem pelacak kapal jarak pendek, digunakan pada kapal dan stasiun pantai untuk mengidentifikasi dan melacak kapal dengan menggunakan pengiriman data elektronik dengan kapal lainnya dan stasiun pantai terdekat lainnya. AIS ditujukan untuk membantu awak kapal dalam bernavigasi dan memungkinkan pihak berwenang maritim untuk melacak dan membetu gerakan kapal. Jarak jangkau AIS sendiri secara horizontal sejauh 74 km dan vertikal sejauh 400 km (Wahyono et., al, 2012).
AIS yang digunakan pada peralatan navigasi untuk menghindari kecelakaan akibat tabrakan. Karena keterbatasan dari kemampuan radio, dan karena tidak semua kapal yang dilengkapi dengan AIS, sistem ini yang diutamakan untuk digunakan sebagai alat peninjau dan untuk menghindari resiko tabrakan daripada sebagai sistem pencegah tabrakan secara otomatis. AIS ditujukan untuk membantu awak kapal dalam bernavigasi dan memungkinkan pihak berwenang maritim untuk melacak dan memantau gerakan kapal, Sistem AIS  terintegrasi dari  Radio VHF transceiver standar dengan Loran-C atau Global Positioning System (GPS), dan dengan  sensor navigasi elektronik lainnya, seperti gyrocompass  dan lain-lain (Anonim, 2012).
2.3.11. Pembaringan
Gambar 11. Pembaringan

Menurut Prasetyo (2012), alat navigasi kapal merupakan suatu yang sangat penting dalam menentukan arah kapal, pada zaman dahulu kala Untuk menentukan arah kapal berlayar tidak jauh dari benua atau daratan. Alat komunikasi kapal digunakan untuk berhubungan antara awak kapal yang berada pada satu kapal atau dapat digunakan untuk komunikasi dengan kapal lain dan atau berkomunikasi dengan darat. Navigasi adalah suatu proses mengendalikan gerakan alat sehingga  dapat menjamin terciptanya aspek-aspek ekonomis dalam asas  Bussines to Bussines.  Sistem navigasi memiliki kelebihan dalam dunia industri maupun perorangan, antara lain:
1.      Menentukan tempat kedudukan (posisi) dimana objek berada di permukaan    bumi.
2.      Mempelajari serta menentukan rute/jalan yang harus ditempuh agar kapal dengan aman, cepat, selamat, dan efisien sampai ke tujuan.
3.      Menentukan haluan antara tempat tolak dan tempat tiba yang diketahui      sehingga jauhnya/jaraknya dapat ditentukan.
4.      Menentukan tempat tiba bilamana titik tolak haluan dan jauh diketahui. Untuk dapat  mengendalikan, menginformasikan dengan lancar, aman dan efisien di semua perairan,  dibutuhkan navigator yang handal dengan keahlian teori dan praktek yang dilaksanakan dengan baik.
Menurut Adi dan Djaja (2008), jika kita sudah mengetahui kedudukan (posisi kapal) kita maka kita memilik titik tolak terpercaya untuk berbagai bagian kebijakan navigasi yaitu menentukan arah ke titik yang dituju, menghindari rintangan dan bahaya lainnya, dan menentukan ruas yang dialami. Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh baringan dapat diformulasikan sebagai berikut:
a.       Titik yang dibaring harus merupakan titik yang denal;
b.      Alat alat baringn yang pergunakan harus terpasang dengan baik;
c.       Baringa harus dilakukan dengan cermat dan teliti;
d.      Koreksi-koreksiyang digunakan harus terpercaya;
e.      Titik dikenal yang lebih dekat letaknya, merupakan pilihan yang baik pada titik yang jauh dari kapal.
Macam-macam garis baringan dikapal antara lain sebagai berikut:
a.       Baringan sejati (Bs), adalah sudut antara utara sejati dengan garis baringan,dihitung dari utara ke kanan;
b.       Baringan magnet (Bm), adalah sudut antara utara magnet dengan garis baringan, dihitung dari utara ke kanan;
c.         Baringan pedoman (Bp) adalah sudut antara utara pedoman dengan garis baringan dihitung dari utara ke kanan.
Rumus-rumus:
1.      Bp + Deviasi =Bm
2.      Bm + Variasi = Bs
3.      Bp + Sembir = Bs
4.      Bp - Bs = Sbr
5.      Bs – Variasi = Bm
6.      Bm – Deviasi = Bp
7.      Bs – Sembir = Bp
Pengelompokan baringan benda, suatu benda dibaring satu kali dan pengelompokan baringan itu sendiri meliputi baringan dengan jarak, baringan dengan peruman, baringan dengan garis tinggi, dan baringan suatu benda dibaring dua kali yaitu baringan dengan geseran, baringan sudut berganda, baringan mendapat sudut 45°, baringan istimewa. Pada baringan yang dibaring dua benda adalah baringan silang dan juga baringan silang dengan geseran.Dibaring dua benda yang dikenal berturut-turut dengan pedoman misalnya tanjung I dan tanjung II akan diperoleh Baringan Pedoman I (Bp. I) dan Baringan Pedoman II (Bp. II). Baringan-baringan sejati itu dilukis dipeta, ditarik dari benda-benda yang dibaring, dengan arah yang berlawanan. Dimana kedua garis baringan sejati dipeta akan berpotongan, disitulah posisi kapal (S) diposisi kapal ditulis jam, tanggal saat melakukan baringan.
III.  MATERI DAN METODE

3.1.      Materi
3.1.1.    Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum Navigasi adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Alat yang digunakan dalam Praktikum Navigasi
No
Alat
Ketelitian
Kegunaan
1
Kamera
-
Untuk dokumentasi kegiatan praktikum
2
Alat tulis
-
Untuk mencatat hasil praktikum
3
Penggaris
0,1 cm
Untuk membantu membuat plotting
4
Busur lingkaran 360o
1o
Untuk membantu dalam menggambar plotting
5
6
Kompas baring
Modul
1o
-
Untuk melakukan pembaringan
Untuk memahami kompetensi konsep mata kuliah yang akan di praktikumkan

Sumber: Praktikum Navigasi 2014.
3.1.2.   Bahan
Bahan yang digunakan pada saat praktikum Navigasi adalah buku referensi Navigasi dan materi dari Balai Besar Pengembangan Ikan (BBPPI) Semarang.

3.2.Metode
Metode yang digunakan saat praktikum Navigasi adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajarai masalah-masalah dalam masyarakat serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Dalam metode deskriptif, peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu setudi komparatif . adakalanya peneliti mengadakan klasifikasi, seerta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu setandar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu factor dengan factor  yang lain. Karenanya, metode deskriptif juga dinamakan studi status (Sutarto,1989).
3.2.1. Metode praktikum
Praktikum Navigasi ini dilakukan dengan metode survey deskriptif  yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan informasi tentang alat-alat navigasi yang terdapat pada Ruang Simulasi, Ruang Navigasi, Ruang Mesin, dan
Ruang Kapal di Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang, Jawa Tengah.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey deskriptif. Soehartono (1995) dalam Anonim (2011) mengemukakan bahwa metode survey merupakan metode untuk memperoleh data yang ada pada saat penelitian dilakukan. Data dapat dilakukan melalui beberapa teknik, seperti wawancara dan pengamatan atau observasi. Metode survey ini dapat berupa survey deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau suatu kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau h ubungan antara dua gejala atau  lebih. Penelitian deskriptif seperti ini menggunakan metode survey, sedangkan teknik pengambilan data yang digunakan adalah studidokumentasi, studi  literature, dan wawancara.

3.2.2. Metode pengumpulan data
1).   Observasi
Menurut Sa’duddin (2011), observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematis atas fenomena-fenomena yang diteliti. Observasi secara sempit dapat diartikan sebagai pengamatan secara langsung terhadap gejala yang diselidiki baik dalam situasi alamiah ataupun situasi buatan. Pengertian observasi secara luas adalah pengamatan yang dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan alat-alat bantu yang sudah dipersiapkan sebelumnya maupun yang diadakan khusus untuk keperluan tersebut.
2).   Studi pustaka
Menurut Berliano (2007), studi pustaka adalah suatu pembahasan yang berdasarkan pada buku-buku referensi yang bertujuan untuk memperkuat materi pembahasan maupun sebagai dasar untuk menggunakan rumus-rumus tertentu dalam menganalisa dan mendesain suatu struktur. Studi pustaka digunakan untuk memecahkan masalah yang ada, baik untuk menganalisa faktor - faktor dan data pendukung maupun untuk merencanakan konstruksi, maka pada bagian ini kami menguraikan secara global pemakaian rumus-rumus dan persamaan yang akan digunakan untuk memecahkan masalah yang ada.
3).   Wawancara
Wawancara adalah suatu cara mengumpulkan data dengan cara mengajukan pertanyaan langsung kepada seorang informan atau autoritas atau seorang ahli yang berwenang dalam suatu masalah. Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berlandaskan kepada tujuan penelitian. Tanya jawab ‘sepihak’ berarti bahwa pengumpul data yang aktif bertanya, sermentara pihak yang ditanya aktif memberikan jawaban atau tanggapan. Dari definisi itu, kita juga dapat mengetahuibahwa Tanya jawab dilakukan secara sistematis, telah terencana, dan mengacu pada tujuan penelitian yang dilakukan (Merlita, 2011).
4).   Dokumentasi
Menurut Efendi (2012), dokumentasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang tertulis, tercetak atau terekam yang dapat dipakai sebagai bukti atau keterangan. Adapun definisi dokumentasi adalah pemberian atau pengumpulan bukti-bukti dan keterangan. Dokumentasi adalah kumpulan dari dokumen-dokumen yang dapat memberikan keterangan atau bukti yang berkaitan dengan proses pengumpulan dan pengelolaan dokumen secara sistematis serta menyebar luaskan  kepada pemakai informasi tersebut.




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.    Ruang Navigasi
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan di peroleh data alat-alat navigasi yang berada di ruang navigasi yang terdapat pada tabel berikut :
Tabel 2. Alat navigasi yang berada di ruang navigasi.
No.
Nama Alat       
Merk
Fungsi
1.
Radio GMDSS
FURUNO
Untuk mengirim dan menerima informasi ke setiap kapal dan stasiun pantai
2.
GPS Plotter
FURUNO
Untuk plotting, menentukan posisi kapal, membuat trek pelayaran
3.
Fish Finder
FURUNO
Mengetahui kedalaman, ikan, suhu, kecepatan kapal, pendugaan gerombolan ikan secara vertikal
4.
Radio SSB
FURUNO
Menggunakan gelombang bannel untuk memperoleh informasi
5.
Radio VHF
FURUNO
Menggunkan gelombang bannel dengan suara yang lebih jelas
6.
ARPA
FURUNO
Mengetahui benda-benda yang berada di atas permukaan air.
7.
SART
FURUNO
Memberikan sinyal satelit ke stasiun pantai atau stasiun pusat.
Sumber: Praktikum Navigasi 2014.
Lanjutan Tabel 2. Alat navigasi yang berada di ruang navigasi.
No.
Nama Alat
Merk
Fungsi
8.
EPIRB
FURUNO
Alat pemancar sinyal ketika kapal tenggelam.
9.
Naftex
FURUNO
Berisi tentang informasi navigasi mengenai berita cuaca pendek.
10.
Marsat
FURUNO
Menyampaikan informasi cuaca secara lebih detail.
11.
SONAR
FURUNO
Menyampaikan informasi mengenai area, volume gerombolan ikan, kedalaman ikan, kecepatan renang ikan, kedalaman jarring
Sumber: Praktikum Navigasi 2014.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, di dalam ruang navigasi terdapat berbagai macam alat perlengkapan kapal. Alat-alat yang ada di dalam ruang navigasi merupakan alat yang ada di dalam sebuah kapal, alat-alat tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1.             GMDSS (Global Maritime Distress Safety System)
Merupakan alat yang digunakan untuk menerima informasi dan juga mengirim data.  GMDSS (Global Maritime Distress Safety System). Ruang navigasi ini juga terdapat radio yang berjumlah tiga yaitu Radio VHF (Very High Frequency), Radio SSB, dan Navtex. Menurut Baskara  (2011) yang menjelaskan bahwa  GMDSS (Global Maritime Distress Safety System) adalah suatu paket keselamatan yang disetujui secara Internasional yanng terdiri dari prosedur keselamatan, jenis-jenis peralatan, protokol-protokol komunikasi yang dipakai untuk meningkatkan keselamatan dan mempermudah saat menyelamatkan kapal, perauh, ataupun pesawat terbang yang mengalami kecelakaan.
2.             GPS (Global Positioning System)
Global Positioning System atau yang sering dikenal dengan nama GPS ini adalah salah satu bagian dari alat navigasi. GPS merupakan alat untuk mengetahui posisi kita berada. Selain itu GPS juga berfungsi untuk menentukan rute daerah yang dangkal di suatu lingkungan perairan, apabila telah mengetahui letak dangkalnya tidak memungkinkan untuk berlayar disuatu perairan tertentu maka tidak boleh diterjang. Dengan GPS plotter maka dapat menentukan perencanaan pelayaran, kebutuhan bahan bakar sampai tujuan, jarak tempuh, dan kemungkinan sampai. Menurut Habibie (2006) yang menerangkan bahwa melalui GPS kita dapat mengetahui keberadaan suatu objek itu berada di seluruh muka bumi baik di darat, laut maupun udara.
3.             Fish finder
Fish finder merupakan alat navigasi yang digunakan untuk menentukan suatu gerombolan ikan yang berada di wilayah perairan. Fish finder juga dapat memberikan informasi mengenai bentuk dasaran laut. Biasanya alat ini digunakan untuk alat tangkap Trawl yang bekerja pada wilayah dasaran. Penentuan gerombolan ikan ini dilakukan secara vertikal. Alat ini juga bisa menentukan suatu kedalaman  dan suhu permukaan di dalam suatu perairan. Menurut Kail Pancing Community menerangkan bahwa Selain topografi dasar perairan, gelombang suara yang dipancarkan oleh transduser terkadang mengenai benda-benda yang melayang dalam air, karena benda tersebut juga memantulkan gelombang. Benda yang melayang itu pun bisa terbaca dalam monitor fish finder.
4.             Radio SSB
Radio SSB adalah alat navigasi yang menggunakan gelombang rendah dan memiliki jangkauan yang cukup jauh. Alat ini digunakan untuk pertukara informasi antar kapal, dan juga sebagai alat untuk menghubungi kapal pandu ataupun ke stasiun-stasiun pantai. Radio SSB ini sendiri terdapat tombol distress, tombol ini berfungsi apabila ada gangguan maka kita bias meminta bantuan pada kapal-kapal lain. Tombol ini juga berkaitan dengan lampu bantuan, apabila lampu yang berwarna merah masih menyala diartikan bantuan masih dibutuhkan dan juga akan memanggil terus.
5.             Radio VHF (Very High Frequency)
Radio VHF (Very High Frequency) ini termasuk alat navigasi pada kapal yang tidak boleh digunakan apabila tidak sesuai prosedur. Pilihan channel yang ada yaitu antara channel 1-88. Radio ini memiliki channel khusus yaitu pada channel 16 yang tidak dapat digunakan secara sembarangan. Channel ini merupakan channel internasional yang digunakan untuk mencari informasi penting dan emergency. Radio ini bisa digunakan apabila masih berada pada jangkauan 15-30 mil.  
6.             ARPA (Automatic Indetification Plotting Aid) 
Dunia navigasi tidak asing dengan alat yang di sebut ARPA. Alat ini juga sering disebut dengan mata malam harinya kapal sebab alat ini juga bisa digunakan apabila ada ABK (Anak Buah Kapal) yang hilang. ARPA menggunakan radar yang lebih canggih dan bisa mendeteksi apabila terdapat benda-benda asing di permukaan sehingga mencegah terjadinya tabrakan. Menurut Adi dan Indra (2008), Sebuah pemancar Radar kapal maupun di darat akan menghasilkan pulsa-pulsa pendek dari gelombang-gelombang radio, melalui scanner Radar pancaran pulsa-pulsa tersebut diarahkan pada area dan obyek yang berada disekeliling kapal. Jika salah satu gelombang radio dari pulsa-pulsa ini mengenai suatu target misalnya sebuah kapal lain, maka sebagian energy akan dipantulkan oleh kapal tersebut kesegala arah, termasuk dikembalikan kearah kapal yang memancarkan pulsa gelombangradio tersebut.
7.             SART
Alat navigasi juga dilengkapi dengan SART. SART ini digunakan apabila terjadi hal diluar dugaan, semisal kapal tenggelam. Kapal yang tenggelam apabila memiliki alat yang disebut SART ini, maka SART akan muncul di bagian permukaan laut. SART ini memancarkan sinyal satelit kepada stasiun-stasiun kapal ata ke pusat SART sehingga informasi tersebut akan muncul di transounder dan segera mendapat pertolongan. Pusat SART terdapat di Amerika. Menurut Adminda (2011) yang menjelaskan bahwa Instalasi GMDSS pada kapal memiliki satu atau lebih peralatan SART yang dipakai untuk melacak lokasi dari survival craft atau kapal yang mengalami kecelakaan dengan cara memancarkan sinyal berupa rangkaian titik pada layar radar kapal-kapal SAR. Ketika terdeteksi oleh radar, SART akan memencarkan sinyal audio dan visual.
8.             EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon)
EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon) merupakan alat darurat yang dapat memancarkan sinyal ketika kapal tenggelam. Alat ini biasanya terdapat di bagian paling tinggi di kapal. EPIRB (Emergency Position Indicating Radio Beacon) menggunakan tenaga batrei sehingga tidak dapat bertahan lama. Kapal yang dilengkapi dengan EPIRB ketika kapal tenggelam EPIRB akan memancarkan sinyal ke  SART. SART (Search Rescue Radar Transfonder) dibawa oleh salah satu awak yang tenggelam sehingga dapat ditemuka. Kapal yang dilengkapi EPIRB juga dilengkapi dengan SART.
9.             Navtex
Radio GMDSS juga dilengkapi dengan navtex, navtex merupakan alat informasi navigasi di dalam pelayaran yang berupa berita singkat ataupun berita pendek. Navtex memperikan informasi keadaan cuaca di laut. Menurut oleh Baskara (2011) yang menjelaskan bahwa sistem satelit yang dioperasikan oleh Inmarsat yang berada dibawah kontrak IMSO (Internasional Mobile Satelite Organization), juga merupakan elemen penting dari sistem GMDSS.
10.         Marsat
Alat navigasi yang digunakan dalam hal komunikasi salah satunya adalah marsat. Marsat digunakan untuk mengirim fax, untuk telepon dan juga untuk mengirim berita navigasi dari navtex. Berita yang dikirimkan yaitu tentang adanya gelombang, tekanan tinggi, arus, angin kencang atau badai yang dikirimkan melalui satelit secara lebih detail.
11.         SONAR (Sound Navigation And Ranging)
SONAR merupakan alat navigasi yang memiliki fungsi yang sama seperti fish finder. Hal yang membedakannya adalah pada fish finder penentuan akan adanya gerombolan ikan di suatu perairan dilakukan secara vertikal, sedangkan pada SONAR penentuan gerombolan ikan yang ada di perairan di lakukan secara horizontal pada sonar terdapat informasi mengenai area, volume gerombolan ikan, kedalaman ikan, kecepatan renang ikan, kedalaman jarring, dan masih banyak lagi. Menurut Garcia (2009) yang menerangkan bahwa, SONAR merupakan sistem yang menggunakan gelombang suara bawah air yang dipancarkan dan dipantulkan untuk mendeteksi dan menetapkan lokasi obyek di bawah laut atau untuk mengukur jarak bawah laut. Sejauh ini sonar telah luas digunakan untuk mendeteksi kapal selam dan ranjau, mendeteksi kedalaman, penangkapan ikan komersial, keselamatan penyelaman, dan komunikasi di laut.

4.2.   Ruang Kapal KM Trevally
         Hasil yang didapat dari Praktikum Navigasi pada ruang navigasi kapal dapat tersaji pada tabel berikut:
Tabel 3.  Alat-alat navigasi di ruang kapal.
No
Nama Alat
Merk
Fungsi
1.
GPS Plotter
FURUNO
Mengetahui tampilan garis pantai dan letak garis lintang atau bujur
2.
Kompas gyro
Tokimec
Mengetahui kedudukan kapal tanpa pengaruhi magnet bumi
3.
Kompas magnet
Tokimec
Mengetahui kedudukan kapal tanpa dipengaruhi oleh medan magnet sekitarnya
4.
RDF (Radio Direction Finder)
TAIYO
Alat penunjuk arah radio buoy dan sebagai penanda pada alat tangkap hanyut
5
Autopilot
FURUNO
Sistem kemudi pada kapal
Sumber : Praktikum Navigasi 2014.

Lanjutan Tabel 3. Alat-alat navigasi di ruang kapal.
6.
RADAR (Radio Detection and Ranging)
FURUNO
Mendeteksi benda-benda yang berada di atas kapal
7.
Echo sounder
FURUNO
Mengetahui suara berupa gema bawah laut
8.
Anemometer
Marine vane
Mengukur kecepatan angin
Sumber: Praktikum Navigasi 2014.
            Pengambilan data praktikum dilakukan pada ruang anjungan kapal yang merupakan ruang komando kapal di mana ditempatkan roda kemudi kapal, peralatan navigasi untuk menentukan posisi kapal berada dan biasanya terdapat juga kamar nakhoda dan kamar radio dan bagian ruang mesin kapal. Adapun alat yang terdapat pada ruang anjungan KM Trevally adalah sebagai berikut:
1.             Kompas : Alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat. Terdapat dua jenis kompas yaitu kompas magnetik dan kompas listrik;
2.             Fish finder : Alat yang digunakan untuk mengetahui informasi keberadaan ikan, topografi bawah laut, dan kedalaman laut;
3.             SONAR : Sebuah teknik yang menggunakan penjalaran suara dalam air untuk navigasi atau mendeteksi kendaraan air lainnya;
4.             GPS : Alat yang digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Menurut Fajriyanto (2009), GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi dengan menggunakan satelit. GPS terdiri dari tiga segmen utama yaitu segmen angkasa yang terdiri dari satelitsatelit yang jumlah keseluruhannya ada 24 buah, segmen kontrol yang terdiri dari 5 stasiun monitor dan pengontrol satelit yang tersebar merata dipermukaan bumi, dan segmen pengguna yang terdiri dari pemakai GPS yaitu alat-alat penerima (receiver) yang menerima dan mengolah sinyal serta data waktu dari satelit.
5.             Echosounder : Berdasarkan hasil pengamatan pada saat praktikum Akustik Kepelautan, sesuai dengan namanya echo yang berarti gema dalam bahasa Inggris, alat ini mempunyai prinsip memancarkan bunyi dan kemudian gema-nya atau bunyi pantulannya ditangkap kembali untuk mengetahui keberadaan benda-benda di bawah air. Echosounder ini perambatan suaranya secara horisontal, sehingga alat ini dapat lebih melihat secara luas daerah-daerah yang ada disekitarnya secara global;
Menurut Imron dan Mulyono (2004), Echosounder adalah salah satu alat bantu penangkapan yang menggunakan prinsip pengukuran kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Getaran pulsa-pulsa tersebut dipancarkan dari tranduser kapal secara vertikal ke dasar laut, selanjutnya permukan dasar laut akan memantulkan kembali pulsa-pulsa itu kemudian diterima oleh tranducer kapal. Selang waktu pulsa saat dipancarkan saat kembali ke receiver dapat dihitung, sedangkan kecepatan membuat suara di air dapat dikatakan tetep, sehingga setengah waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara di air dapat dihitung sebagai kedalaman air.
6.             Radar : Sonar (Sound Navigation Ranging) adalah suatu alat yang dikembangkan untuk mendeteksi obyek di bawah air. Alat sonar paling sederhana mengirimkan getaran bunyi dari sebuahtransduser, dan kemudian mengukur dengan tepat waktu yang diperlukan getaran bunyi tadi untuk kembali / memantul ke transduser. Jarak obyek dapat dihitung dengan perbedaan waktu dan cepat rambat bunyi di air.
                    Menurut Furuno (2003) dalam Alam (2013), prinsip kerja radar adalah dengan memancarkan gelombang radio dari scanner ke arah tertentu. Ketika pulsa menabrak suatu objek seperti kapal atau pulau maka sebagian energi akan kembali ke scanner radar. Arah di mana scanner menunjuk ketika pulsa pantulan diterima merupakan arah dari objek yang menyebabkan pantulan. Waktu yang diperlukan pulsa pantulan untuk kembali ke scanner merupakan ukuran untuk menentukan jarak target.
7.             Kemudi : Alat un tuk mengarahkan kemana kapal akan bergerak, terdapat    dua macam kemudi yaitu kemudi tangan dan kemudi dengan menggunakan remote.
8.         Barometer : sebuah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan udara, barometer umumnya digunakan dalam peramalan cuaca, dimana tekanan udara yang tinggi menandakan cuaca yang bagus atau bersahabat, sedangkan tekanan udara yang rendah menandakan cuaca yang buruk.
9.             Naftek Recorder : adalah alat yang memberikan informasi mengenai berita yang terjadi di laut, seperti berita terjadinya kecelakaan kapal, informasi cuaca di laut yang disampaikan dari darat.
Pengambilan data praktikum juga dilakukan pada ruang mesin kapal KM Trevally yaitu dengan mengambil data jenis mesin yang digunakan kapal, isi dari ruang mesin kapal. Kamar Mesin (Engine Room), suatu ruangan khusus dikapal yang didalamnya dipasang mesin-mesin yang dibutuhkan untuk operasi kapal (menjalankan kapal/berlayar) serta muatannya (muat dan bongkar), termasuk untuk penunjang kehidupan awak kapal dan orang-orang lain diatas kapal. Adapun alat yang terdapat pada ruang mesin kapal KM Trevally adalah sebagai berikut:
1.             Ruang Kontrol Mesin (Engine Control Room), salah satu ruangan didalam kamar mesin dimana semua alat-alat kontrol mesin-mesin yang beroperasi dipasang, termasuk sistem kontrol energi listrik, agar pengawasan terhadap mesin-mesin lebih efektif dan efisien.
2.             Mesin Induk (Main Propulsion Engine), suatu instalasi mesin yang terdiri dari berbagai unit/sistem pendukung dan berfungsi untuk menghasilkan daya dorong terhadap kapal, sehingga kapal dapat berjalan maju atau   9 mundur.

4.3.      Ruang Bridge Simulator
            Berdasarkan observasi yang telah dilakukan di dalam ruang bridge simulator didapatkan alat-alat yang tersaji pada tabel 3.
Tabel 4. Alat-alat navigasi ruang bridge simulator.   
No
Nama Alat
Merk
Fungsi
1
RADAR
FURUNO
untuk mendeteksi obyek (target/ sasaran)
2
Echo sounder
FURUNO
untuk mendeteksi dan mengukur kedalaman air laut
3
ECDIS
TRANSAS
adalah untuk memback-up peralatan yang ada
4
SONAR
FURUNO
untuk mendeteksi dan mencari gerombolan ikan terutama ikan-ikan demersal . Selain itu dapat digunakan untuk melihat bentuk kontur dasar perairan serta jenis dasar perairan
Sumber : Praktikum Navigasi 2014.

Lanjutan Tabel 4. Alat-alat navigasi ruang bridge simulator.
5
Radio VHF
FURUNO
Untuk komuniksi dengan administrator pelabuhan
6
GPS
FURUNO
Untuk mengetahui posisi koordinat bumi secara tepat
7
Peta Laut
-
Untuk mengetahui alur pelayaran dan mengetahui berapa jarak yang akan ditempuh  dan berapa bahan bakar yang dibutuhkan.
8
Kemudi
-
Untuk menggerakkan daun kemudi yang ada di belakang kapal.
9
Tombol Darurat
-
Untuk mengarahkan kapal apabila kemudi.
10

11
Tuas

Kompas Magnetik
-

-
Untuk menggerakkan kapal dengan kecepatan yang sama apabila dua tuas digerakkan.
Untuk menentukan arah kapal berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat.
Sumber: Praktikum Navigasi 2014.
Ruang Simulator diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai aslinya, seperti kita menjadi nahkoda kapal.  Pada ruangan ini dilengkapi alat-alat navigasi sebagai pendukung proses kerja suatu kapal. Ruang simulator itu juga bisa membantu membaca peta, plotting, membaring, pemanduan buta, manuver kapal, dan membantu menghindari kecelakaan di laut. Di ruang simulator juga bisa mengetahui bagaimana cara menjalankan/mengemudikan kapal. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat pembelajaran bagi para pemula ABK kapal sebelum mengoperasikannya dilautan. Isi dari ruangan navigasi diatursedemikian rupa sehingga tempat seperti keadaan sebenarnya dilapangan (Yoyok, 2002).
Adapun alat-alat yang ada pada ruangan ini seperti RADAR, echo sounder, GPS, ECDIS, kompas, peta laut, kemudi, tombol darurat, tuas, dan radio VHF. Alat-alat ini memiliki kegunaan yang berbeda, namun ada beberapa alat kegunaannya hampir sama seperti SONAR dan echo sounder.
Radar adalah kependekan dari Radio detecting and ranging. Radar merupakan salah satu alat bantu navigasi elektronika, yang digunakan untuk mendeteksi obyek (target/sasaran) berdasarkan prinsip pengukuran waktu tempuh yang diperlukan untuk merambatkan pulsa sinyal gelombang elektromagnetik, sejak sinyal tersebut dipancarkan oleh transmitter hingga gema (echo) yang dipantulkan oleh obyek dan diterima pada receiver.  Sinyal elektromagnetik yang ditampilkan oleh obyek ke pesawat penerima tersebut selanjutnya tergambar pada layar kaca (Position Plan Indicator atau PPI), sehingga arah baringan dan jarak pengamat terhadap obyek dapat diketahui. Obyek pengamatan radar dapat berupa:  kapal, pulau, radar reflektor, pelampung rambu dan benda lainnya yang dapat memantulkan gelombang elektromagnetik, bahkan awan yang rendah serta hujan pun dapat dideteksi oleh radar.
      Fish finder atau echo sounder yang dalam bahasa Indonesianya disebut Perm Gema adalah merupakan salah satu peralatan elektronik yang terdapat dikapal, digunakan untuk mendeteksi dan mengukur kedalaman air laut, serta dapat dimanfaatkan untuk bernavigasi. Prinsip kerja fish finder adalah pengukuran kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Pulsa-pulsa getaran suara tersebut dipancarkan dari transducer kapal merambat melalui media air laut secara vertikal ke dasar laut, kemudian dasar laut atau target lainnya seperti ikan dan lain-lain, akan memantulkan pulsa tadi yang kemudian diterima oleh transducer kapal. Selang waktu pulsa saat dipancarkan, hingga kembali kembali ke receiver dapat dihitung, sedangkan kecepatan merambat suara diair laut dapat dikatakan tetap, sehingga separuh waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara diair dapat dihitung sebagai kedalaman air. Fungsi dari fish finder ini adalah  selain untuk mengukur kedalaman laut, dapat juga digunakan untuk mendeteksi dan mencari gerombolan ikan terutama ikan-ikan demersal. Selain itu dapat digunakan untuk melihat bentuk kontur dasar perairan serta jenis dasar perairan.
            SONAR merupakan salah satu alat bantu penangkapan ikan  yang sistem kerjanya hampir sama dengan fish finder, yaitu menggunakan pulsa suara yang dipancarkan oleh transducer kedalam laut. Kalau pada  fish finder, pancaran pulsa hanya satu arah saja yaitu secara vertikal, sedangkan pada sonar arah pancaran transducer dapat digerakkan baik horizontal maupun vertikal, namun pada umumnya penggunaan sonar lebih dititik beratkan untuk mendeteksi ikan pada arah horizontal atau mendekati arah horizontal.
             ECDIS atau “Electronic Chart Display and Information System” adalah suatu alat yang fungsi dan sistemnya dapat memberikan informasi tentang navigasi dan yang kegunannya adalah untuk memback-up peralatan yang ada, sehingga dapat diterima dan dianggap memenuhi persyaratan yang ditentukan sesuai aturan V/19 & V/27 dari konvensi SOLAS 1974 & amandemennya. Oleh karena itu peralatan ECDIS ini harus memenuhi kriteria standart kinerja. Peralatan lain yang digunakan bersamaan dengan ECDIS adalah ENC (Electronic Navigational Charts). ENC ini sebenarnya merupakan suatu Data Base yang distandardisasikan baik mengenai muatan,struktur dan formatnya disesuaikan untuk digunakan bersama ECDIS namun harus ada persetujuan dari IHO. Demikian juga halnya dengan RCDS (Raster Chart Display System),yang fungsinya hampir sama dengan ECDIS dan bahkan juga telah disetujui oleh IMO dan IHO, namun perbedaannya hanya sedikit,yaitu ECDIS dilengkapi dengan alarm yang langsung berhubungan dengan peta yang digunakan apabila misalnya posisi atau haluan yang digunakan tidak tepat. Sedangkan RCDS atau RNC dilengkapi dengan kertas peta (chart paper) yang tidak dipunyai oleh ECDIS, dimana ECDIS sendiri hanya menggunakan tampilan yang hampir sama dengan peta (Destariana, 2010).
             Radio VHF merupakan salah satu alat komunikasi dalam suatu kapal. Radio ini berguna untuk berkomunikasi dengan administrator pelabuhan. Radio VHF merupakan radio yang memberikan informasi laut secara internasional yang memiliki channel 16.
            GPS ini berguna mengetahui posisi koordinat bumi secara tepat yang dapat secara langsung menerima sinyal dari satelit. Perangkat GPS modern menggunakan peta sehingga merupakan perangkat modern dalam navigasi. Menurut Direktorat Jenderal Perikanan (2003), Global Positioning System (GPS) adalah suatu sistem navigasi yang memanfaatkan satelit. Penerima GPS memperoleh sinyal dari beberapa satelit yang mengorbit bumi. Satelit yang mengitari bumi pada orbit pendek ini terdiri dari 24 susunan satelit, dengan 21 satelit aktif dan 3 buah satelit sebagai cadangan. Dengan susunan orbit tertentu, maka satelit GPS bisa diterima diseluruh permukaan bumi dengan penampakan antara 4 sampai 8 buah satelit. GPS dapat memberikan informasi posisi dan waktu dengan ketelitian sangat tinggi.  
   Peta laut merupakan suatu panduan yang harus ada dalam sebuah pelayara. peta ini berguna untuk mengetahui alur pelayaran sehingga dapat mengetahui berapa jarak yang akan ditempuh  dan berapa bahan bakar yang dibutuhkan. Menurut Anonim (2012), peta-peta diterbitkan menurut sifat pemakaiannya, misalnya peta untuk penerbangan (aeronautical chart), peta laut (nautical chart), peta cuaca (weather chart), peta bintang (star chart) dan lain-lain. Untuk keperluan pelayaran di laut dipakailah peta laut.
 Kompas magnetik berguna untuk untuk menentukan arah kapal berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat. Menurut Arief et., al., (2008), kompas merupakan salah satu alat penting dalam navigasi yang berfungsi menentukan arah berdasarkan pada kutub bumi, tetapi pada umumnya kompas hanya dirancang dalam bentuk visual, sehingga hanya dapat digunakan bagi mereka yang dapat melihat
                        Kemudi berguna untuk menggerakkan daun kemudi yang ada di belakang kapal. Tuas berguna untuk menggerakkan kapal dengan kecepatan yang sama apabila dua tuas digerakkan. Tombol Darurat yang ada di ruang simulator berguna untuk mengemudikan kapal apabila kemudi rusak.
            Alat-alat navigasi seperti yang disebutkan digunakan pada ruang simulator menyerupai keadaan aslinya. Alat-alat tersebut merupakan alat yang seharusnya ada dan sangat penting dalam sebuah pelayaran kapal. Ruangan simulator sangat dibutuhkan terutama untuk pembelajaran para ABK kapal pemula dan navigator sebelum mengoperasikan dan melayarkan kapal.
            Praktikum navigasi dilakukan pada 3 (tiga) ruangan yaitu ruang navigasi, ruang kapal (KM Trevally) dan ruang simulator memiliki keterkaitan yang erat. Sebagian besar alat yang terdapat di dalam ruang navigasi a di ruang simulator dan ruang kapal (ruang navigasi kapal). Begitu juga sebaliknya.
            Pada umumnya ruang akomodasi dan ruang navigasi berada di atas ruangan mesin, maka jika penempatan ruang mesin berada agak ke depan, maka dengan sendirinya posisi ruang navigasi juga akan berada agak ke depan, yang mana akan memudahkan awak kapal melakukan navigasi secara visual, karena halangan (obstacle) pada saat kapal membawa muatan petikemas penuh, akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan seluruh ruang muat berada di depan ruang akomodasi dan navigasi (Anonim, 2013).

4.5.      Pembaringan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil pembaringan pada dua titik di Gedung C Perikanan tersaji pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil Pembaringan
No
Posisi
Azimuth
Back Azimuth
Jarak pada peta (cm)
Jarak sebenarnya (m)
1
A - B
270o
90o
10
50

C - A
170o
350o
3,5
17,5

C - B
250o
70o
10,1
50,5

 C - AB


5,6
28
Sumber: Praktikum Navigasi 2014.
            Pembaringan dilakukan di depan gedung C Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Sebelum melakukan teknik pembaringan, langkah pertama yang dilakukan adalah mengukur panjang gedung C dari titik A ke titik B, yaitu 50 meter.
Back Azimuth adalah jika derajat pembaringan <180o maka ditambah 180o, dan jika >180o, maka dikurangi 180o. Baringan dilakukan untuk mengetahui  posisi awal pada peta dengan cara membaring dua benda dan mencari perpotongan garis baringan keduanya. Setelah hasil baringan dipetakan  pada peta, kita dapat mengetahui posisi kita dengan melihat pada peta tersebut.
Membaring dalalah salah satu cara untuk menentukan posisi suatu tempat berdasarkan koordinator garis lintang dan garis bujur bumi.Kegiatan ini dilakukan dengan cara menentukan arah atau sudut suatu benda dari kapal dengan mermperoleh pedoman. Cara membaring ini akan memperoleh sudut baringan dari dua target baringan yang dikenal dan terdapat di peta laut yang dapat dilihat secara visual dengan atau alat bantu (Anonim, 2010).









V.  KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.  Kesimpulan
Dari hasil praktikum navigasi, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1.         Sistem navigasi yang digunakan dalam Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan adalah untuk membantu pelayaran kapal perikanan yaitu untuk memudahkan mengetahui suhu perairan, arah pelayaran, kedalaman perairan, kepadatan gerombolan ikan;
2.          Alat-alat navigasi yang dapat membantu dalam kegiatan perikanan adalah decca, omega, sextan, kompas lensa, kompas silva, kompas prisma, kompas giro, GPS (Global Positioning System), RADAR, ARPA (Automatic Radar Plotting Aid), SONAR (Sound Navigation And Ranging), AIS (Automatic Identification System), Radio GMDSS (Global Maritime Distress Safety System), Echo sounder,  fish finder,  peta laut, ECDIS, dan pembaringan; dan
3.         Pembaringan dilakukan dengan cara menentukan target pembaringan dari dua tempat, kemudian dibaring ujung gedung yang satu dan ujung gedung yang satunya lagi, kemudian didapat hasil baringan dan dapat di gambar dengan skala di peta.



5.2.  Saran
Saran yang dapat disampaikan pada praktikum Navigasi 2014 ini adalah:
1.         Sebaiknya saat praktikum alat navigasi seperti decca, omega dan sextan sehingga praktikan dapat memahami dengan melihat secara langsung alat navigasi tersebut;
2.          Sebaiknya saat praktikum alat navigasi yang ada tidak dalam keadaan rusak sehingga praktikan bisa memahami; dan

3.          Sebaiknya saat praktikum pembaringan tidak hanya memakai satu objek pembaringan saja, tetapi lebih dari satu objek pembaringan.